Resonansi Mendalam Antara Semangat 1928 dan Tantangan Generasi Muda Saat Ini

Oleh: Anggota DPRD Kabupaten Kendal Fraksi PDI Perjuangan, Muhammad Iqbal Adila, S.H.
Rabu, 28 Oktober 2026 16:13 WIB Jurnalis - Ananda Okctaviani

Kendal, Gesuri.id - Di sebuah ruang rapat di Batavia, 97 tahun silam, sejarah tidak lahir dari mikrofon dan panggung megah. Ia lahir dari gesekan biola seorang pemuda berusia 25 tahun, Wage Rudolf Supratman, yang dengan berani memperdengarkan instrumental Indonesia Raya di hadapan peserta Kongres Pemuda II.

Suara biola itu sengaja dibiarkan tanpa lirik, bukan karena kehilangan makna, melainkan karena tekanan kolonial Belanda yang mengawasi setiap gerak-gerik pergerakan nasional.

Momen 28 Oktober 1928 itu bukan sekadar peristiwa seremonial. Di balik layar, ada Amir Sjarifuddin, seorang pemuda 21 tahun yang menjabat sebagai Bendahara Kongres. Ia mewakili Jong Bataks Bond dan bertanggung jawab penuh atas pengelolaan keuangan serta anggaran kongres.

Amir bukan hanya bendahara, ia adalah salah satu otak perumusan ikrar, aktif memimpin sidang, dan menyumbangkan gagasan untuk merumuskan Sumpah Pemuda. Kehadirannya membuktikan bahwa peran strategis di balik layar, pengelolaan sumber daya dan logistik, sama vitalnya dengan mereka yang berdiri di depan panggung.

Baca juga :