Kendal, Gesuri.id - Di sebuah ruang rapat di Batavia, 97 tahun silam, sejarah tidak lahir dari mikrofon dan panggung megah. Ia lahir dari gesekan biola seorang pemuda berusia 25 tahun, Wage Rudolf Supratman, yang dengan berani memperdengarkan instrumental "Indonesia Raya" di hadapan peserta Kongres Pemuda II.
Suara biola itu sengaja dibiarkan tanpa lirik, bukan karena kehilangan makna, melainkan karena tekanan kolonial Belanda yang mengawasi setiap gerak-gerik pergerakan nasional.
Momen 28 Oktober 1928 itu bukan sekadar peristiwa seremonial. Di balik layar, ada Amir Sjarifuddin, seorang pemuda 21 tahun yang menjabat sebagai Bendahara Kongres. Ia mewakili Jong Bataks Bond dan bertanggung jawab penuh atas pengelolaan keuangan serta anggaran kongres.

Amir bukan hanya bendahara, ia adalah salah satu otak perumusan ikrar, aktif memimpin sidang, dan menyumbangkan gagasan untuk merumuskan Sumpah Pemuda. Kehadirannya membuktikan bahwa peran strategis di balik layar, pengelolaan sumber daya dan logistik, sama vitalnya dengan mereka yang berdiri di depan panggung.
Dari Biola ke Bilik Suara: Pelajaran untuk Gen Z
Sebagai anggota DPRD Kabupaten Kendal dari Fraksi PDI Perjuangan, saya melihat resonansi mendalam antara semangat 1928 dan tantangan generasi muda hari ini. Keberanian W.R. Supratman memainkan biola di bawah pengawasan kolonial adalah bentuk keberanian artistik menyampaikan pesan kebangsaan melalui medium yang tidak langsung, namun tetap menggugah.
Di sisi lain, sikap Amir Sjarifuddin dan para peserta kongres yang mau duduk bersama, berdiskusi, dan berkompromi untuk mencapai ikrar bersama adalah wujud kedewasaan berdemokrasi.
Gen Z hari ini hidup di era yang jauh berbeda, namun serupa, kebebasan berekspresi hadir, tetapi polarisasi politik dan ujaran kebencian di media sosial kerap mengancam persatuan. Perbedaan pilihan politik adalah hal yang biasa, tetapi jangan sampai perbedaan itu memecah belah persaudaraan sebagai bangsa.
Perbedaan itu harus menjadi sebuah kekuatan bukan merupakan sumber kelemahan. Tantangan terbesar pemuda bukan hanya kemiskinan atau pengangguran semata, melainkan sikap apatis terhadap lingkungan sosial.
Pelajaran dari Kongres Pemuda II adalah bahwa persatuan tidak menuntut keseragaman. Para pemuda 1928 berasal dari latar belakang organisasi, daerah, dan bahkan agama yang berbeda. Yang menyatukan mereka bukanlah kesamaan identitas, melainkan kesamaan tujuan yaitu Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Loyalitas Elektoral dan Kedaulatan NKRI
Bagi generasi muda, loyalitas politik elektoral tidak berarti menjadi pengikut buta dari satu kekuatan politik. Loyalitas sejati adalah kesetiaan pada prinsip-prinsip kedaulatan NKRI, pada pancasila, pada konstitusi, dan pada proses demokrasi yang bermartabat. Memilih dalam pemilu adalah hak, namun setelah pemilu usai, kewajiban untuk menjaga persatuan tetap berlaku. Jangan biarkan diri dimanfaatkan oleh kepentingan pragmatis yang memecah belah bangsa. Jadilah pemuda yang kritis, cerdas, dan beretika dalam mengawal demokrasi.
Penutup
Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa keberanian dan kedewasaan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. W.R. Supratman berani secara artistik, Amir Sjarifuddin dan para peserta kongres dewasa secara politik. Gen Z Kendal dan seluruh Indonesia perlu memadukan keduanya yaitu berani menyuarakan aspirasi dan dewasa dalam menyikapi perbedaan. Mari rawat semangat 1928 bukan dengan slogan, tetapi dengan karya, dialog yang sehat, dan komitmen untuk menjaga NKRI tetap utuh dan bermartabat. Pemuda hari ini adalah calon pemimpin masa depan bangsa Indonesia.
Bung Karno pernah menyatakan bahwa "beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 Pemuda, niscaya akan kuguncang dunia" semoga yang membaca tulisan ini merupakan salah satu pemuda yang dicita-citakan oleh Bung Karno.
MERDEKA!!!!!

















































































