Soegondo Djojopoespito dan Detik-Detik Pembacaan Ikrar Sumpah Pemuda

Ia membacakannya “dengan lantang”, “penuh semangat”, dan “pandangan yang jauh ke depan”.
Rabu, 21 Oktober 2026 04:19 WIB Jurnalis - Ali Imron

MALAM itu, 28 Oktober 1928, di Gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106, Batavia, suasana rapat ketiga Kongres Pemuda II telah mencapai puncaknya. Setelah berjam-jam berdebat tentang fusi, bahasa, dan dasar kebangsaan, para peserta yang datang dari berbagai organisasi kedaerahan itu duduk dengan wajah lelah namun tegang. Di kursi ketua, seorang pemuda berusia 23 tahun asal Tuban, Soegondo Djojopoespito, memegang kendali penuh atas jalannya sidang terakhir.

Di tengah pidato Mr. Sunario yang tengah berbicara tentang pentingnya nasionalisme, Mohammad Yaminsekretaris kongresmenyodorkan secarik kertas kepada Soegondo. Sambil berbisik, Yamin berkata dalam bahasa Belanda: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie Saya punya rumusan resolusi yang lebih elegan. Soegondo membaca kertas itu. Ia tidak berdebat. Ia tidak meminta penjelasan panjang. Ia membubuhkan paraf persetujuannya pada kertas tersebut, lalu meneruskannya kepada peserta lain untuk mendapatkan paraf yang sama. Beberapa saat kemudian, dengan suara lantang dan penuh keyakinan, Soegondo membacakan rumusan yang baru saja disetujui itu di hadapan seluruh kongres.

Itulah momen ketika Sumpah Pemudasebuah teks yang lahir dari secarik kertas di tengah pidatountuk pertama kalinya diperdengarkan secara resmi. Dan Soegondo, si pemimpin sidang yang tenang, adalah suara pertama yang mengucapkannya.

Siapa Soegondo Djojopoespito?
Soegondo lahir di Tuban, Jawa Timur, pada 22 Februari 1905. Ia adalah putra seorang penghulu dan mantri juru tulis, dan sejak kecil hidup bersama pamannya, Hadisewojo, yang menjadi ayah angkatnya. Pendidikan membawanya ke HIS Tuban, MULO Surabaya, dan AMS Yogyakartasebuah perjalanan yang mempertemukannya dengan tokoh-tokoh besar: di Surabaya ia tinggal di rumah H.O.S. Tjokroaminoto bersama Soekarno; di Yogyakarta ia menyewa rumah milik Ki Hajar Dewantara.

Pada tahun 1925, Soegondo melanjutkan studi hukum di Rechtshoogeschool Jakarta. Di sinilah ia membaca tulisan-tulisan Mohammad Hatta tentang nasionalisme, dan bersama teman-temannya mendirikan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI)organisasi mahasiswa yang tidak berbasis kedaerahan, melainkan berlandaskan semangat kebangsaan. Ketika PPPI menggagas Kongres Pemuda II, Soegondoyang saat itu telah menjadi ketua PPPIdipercaya sebagai ketua kongres.

Baca juga :