Bulan Agustus tahun 1945 tidak hanya mencatatkan suhu politik yang mendidih di Jakarta, tetapi juga bertepatan dengan bulan suci Ramadan (9 Ramadan 1364 Hijriah). Di tengah pusaran revolusi, para bapak bangsa kita tetaplah manusia biasa yang menjalankan ibadah puasa dan membutuhkan asupan energi di penghujung malam.
Mari kita putar waktu ke dini hari tanggal 17 Agustus 1945, di ruang makan kediaman Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol Nomor 1. Fokus kita kali ini bukan pada perdebatan sengit tentang siapa yang harus menandatangani naskah, melainkan pada aroma bumbu yang menguar dari arah dapur militer Jepang tersebut.
Hawa dingin menjelang fajar mulai menyusup ke dalam rumah bergaya Art Deco itu. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. Di ruang utama, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo baru saja menyelesaikan mahakarya tulisan tangan mereka: draf naskah Proklamasi. Naskah itu kemudian diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik.
Namun, ada satu realitas biologis yang tak bisa diabaikan oleh puluhan orang yang berjaga malam itumulai dari para perumus, tokoh pergerakan, hingga barisan pemuda di ruang depan. Mereka kelelahan, kurang tidur sejak insiden Rengasdengklok, dan yang paling utama: waktu sahur telah tiba.
Menyusun kemerdekaan sebuah negara ternyata memakan banyak kalori. Jika mereka tidak makan sahur, bagaimana mereka bisa berdiri tegak membacakan proklamasi di pagi harinya?