Efisiensi MBG: Demi Keadilan Gizi dan Tanggung Jawab Fiskal

Oleh: Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris.
Kamis, 02 April 2026 07:24 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Jakarta, Gesuri.id - Di Penghujung Maret 2026, harga minyak mentah dunia menembus 118 dollar AS per barellevel tertinggi dalam empat tahun. Konflik di Timur Tengah memutus 20 persen pasokan minyak global. Indonesia, yang mengimpor lebih dari 1 juta barel per hari, tidak bisa menghindar dari dampaknya.

Asumsi APBN 2026 yang mematok harga minyak di 70 dollar AS per barel kini menjadi fiksi. Simulasi beberapa ekonom menunjukkan: jika harga minyak bertahan di 100 dollar AS, defisit APBN berpotensi melebar hingga 3,3 persen PDBmelampaui batas defisit yang diizinkan undang-undang.

Dalam skenario 150 dollar AS, tambahan beban subsidi energi bisa mencapai Rp 544 triliun. Inflasi diproyeksikan tembus 67 persen pada April. Rupiah tertekan melewati Rp 17.000. Di tengah tekanan fiskal luar biasa ini, Indonesia mengalokasikan Rp 335 triliunsekitar 910 persen total belanja APBNuntuk satu program: Makan Bergizi Gratis. Pertanyaan yang tidak bisa lagi dihindari: apakah ini penggunaan uang rakyat yang paling bertanggung jawab?

MBG dilandasi tujuan mulia: eliminasi stunting dan gizi buruk. Namun, data SSGI 2024 menunjukkan kesenjangan besar antara retorika dan realita. Balita stunting berjumlah 4,48 juta. Balita wasting sekitar 2 juta, dengan lebih dari 460.000 mengalami severe wasting yang mengancam jiwa.

Baca:Jelang Kampanye Terbuka,GanjarMinta Pendukungnya Tertib Aturan

Baca juga :