Ikuti Kami

Sembilan Jam Jemaah Kelaparan di Mina, Timwas Haji DPR Selly Gantina Desak Evaluasi Total

Keterlambatan logistik ini berdampak fatal pada kondisi fisik jemaah, terutama kelompok rentan.

Sembilan Jam Jemaah Kelaparan di Mina, Timwas Haji DPR Selly Gantina Desak Evaluasi Total
Anggota Timwas Haji DPR RI, Selly Andriany Gantina.

Mekkah, Gesuri.id – Fase puncak ibadah haji di Mina kembali diwarnai carut-marut pelayanan bagi jemaah haji Indonesia. Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI menemukan fakta memprihatinkan di lapangan, mulai dari tenda yang overkapasitas, sanitasi buruk, hingga jemaah lanjut usia (lansia) yang telantar tanpa makanan selama sembilan jam.

Anggota Timwas Haji DPR RI, Selly Andriany Gantina, mengungkapkan bahwa keterlambatan logistik ini berdampak fatal pada kondisi fisik jemaah, terutama kelompok rentan.

“Ada beberapa jemaah yang sudah sembilan jam berada di dalam tenda tidak mendapatkan fasilitas makan. Akhirnya para lansia drop,” kata Selly di Mekkah, Jumat (29/5).

Baca: Ganjar Dukung KPK Perketat Syarat Pemimpin

Selly menjelaskan, kondisi maktab atau tenda di Mina tahun ini jauh dari standar layak. Selain distribusi konsumsi yang mandek, keterbatasan air bersih dan buruknya fasilitas toilet memperparah penderitaan jemaah di tengah suhu ekstrem Arab Saudi.

“Saya menemukan beberapa masalah terkait fasilitas tenda, terutama toilet. Kemudian kondisi tenda ternyata tidak nyaman untuk para jemaah, di mana kapasitasnya dipaksakan sehingga jemaah harus berdempet-dempetan,” ujar politikus PDI Perjuangan tersebut.

Kondisi berdesakan dan kelaparan berjam-jam tersebut langsung memicu penurunan kesehatan jemaah secara massal. Ironisnya, Selly melihat pos pelayanan kesehatan di area tenda Mina lambat dalam memberikan respons.

Menurutnya, jemaah yang jatuh sakit akibat kelelahan tidak mendapatkan penanganan medis yang optimal dari petugas di lokasi. Atas dasar itu, DPR mendesak syarikah (perusahaan mitra penyelenggara haji) bersama Kidana—perusahaan pengembang milik pemerintah Arab Saudi—untuk bertanggung jawab penuh atas kegagalan pemenuhan standar pelayanan ini.

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

Melihat persoalan klasik di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) yang terus berulang setiap tahun, Selly meminta Pemerintah Indonesia mengambil langkah berani dan lebih realistis untuk menyelamatkan jemaah berisiko tinggi (risti). Salah satunya melalui skema tanazul atau mengembalikan jemaah ke hotel di Mekkah ketimbang memaksakan mereka bermalam (mabit) di Mina.

“Jangan sampai mereka terbebani, tidak mendapatkan makanan, sakit di dalam tenda, dan tidak mendapat fasilitas kesehatan yang layak,” tegasnya.

Kendati melayangkan kritik keras pada fase Armuzna, Selly tetap memberikan apresiasi atas pelayanan haji 2026 yang dinilai relatif lebih baik selama fase di Mekkah dan Madinah. Namun, ia menegaskan bahwa ujian sesungguhnya dari kualitas pelayanan pemerintah dan mitranya adalah di fase puncak Armuzna.

Quote