Keberanian Melebur Ego Kedaerahan Menjadi Kekuatan Kolektif Sumpah Pemuda

Oleh: Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tangerang, Nisaa Diniyaty.
Rabu, 14 Oktober 2026 17:00 WIB Jurnalis - Kristin Tambunan

Jakarta, Gesuri.id - Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 tidak lahir dari ruang yang hampa. Ia lahir dari rahim keberanian organisasi-organisasi kedaerahan untuk membunuh egonya sendiri.

Sebelum ada kata Indonesia, yang ada adalah Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Bataks Bond, dan Pemuda Kaum Betawi. Mereka adalah pemuda yang awalnya berjuang untuk sukunya masing-masing. Mereka punya bendera, bahasa, dan kebanggaannya sendiri.

Titik baliknya adalah ketika para tokohnya menyadari: Jika terus berjuang sendiri-sendiri, kita hanya akan jadi suku yang besar, bukan bangsa yang merdeka.

Disinilah peran para tokoh penggerak daerah itu menjadi kunci:

Mohammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond adalah contohnya. Ia bukan hanya seorang pujangga, ia adalah seorang negarawan muda. Di Kongres Pemuda II, Yamin-lah yang merumuskan naskah ikrar yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Ia rela menanggalkan identitas kesumatraannya untuk menuliskan tiga kalimat untuk seluruh tumpah darah. Ia mengajarkan kita bahwa ide besar harus mengalahkan identitas kecil.

Baca juga :