Jakarta, Gesuri.id - Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 tidak lahir dari ruang yang hampa. Ia lahir dari rahim keberanian organisasi-organisasi kedaerahan untuk membunuh egonya sendiri.
Sebelum ada kata "Indonesia", yang ada adalah Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Bataks Bond, dan Pemuda Kaum Betawi. Mereka adalah pemuda yang awalnya berjuang untuk sukunya masing-masing. Mereka punya bendera, bahasa, dan kebanggaannya sendiri.
Titik baliknya adalah ketika para tokohnya menyadari: Jika terus berjuang sendiri-sendiri, kita hanya akan jadi suku yang besar, bukan bangsa yang merdeka.
Disinilah peran para tokoh penggerak daerah itu menjadi kunci:
Mohammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond adalah contohnya. Ia bukan hanya seorang pujangga, ia adalah seorang negarawan muda. Di Kongres Pemuda II, Yamin-lah yang merumuskan naskah ikrar yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Ia rela menanggalkan identitas kesumatraannya untuk menuliskan tiga kalimat untuk seluruh tumpah darah. Ia mengajarkan kita bahwa ide besar harus mengalahkan identitas kecil.
Bersama Yamin, ada Soegondo Djojopoespito (PPPI), R. Katjasoengkana (Jong Java), dan para delegasi dari Jong Celebes dan Jong Ambon. Mereka melakukan hal yang paling sulit dalam sejarah: bermusyawarah untuk tidak lagi menjadi "kita dan mereka", tetapi menjadi "KITA". Mereka merajut kebinekaan yang tadinya adalah sekat, menjadi kekuatan kolektif.
Relevansinya dengan Hari Ini? Sangat Relevan.
Jika dulu tantangannya adalah melebur ego kesukuan, hari ini tantangan Gen Z adalah melebur ego algoritma dan echo chamber. Gen Z yang harus melestarikan kedaerahan atas semangat sumpah pemuda.
Gen Z hidup di era digital yang sangat tersekat-sekat: komunitas fandom, komunitas hobi, komunitas kampus, komunitas aktivis. Kita terhubung, tapi sering hanya dengan yang sepemikiran.
Padahal, spirit Yamin dkk adalah spirit Membangun Koalisi Lintas Komunitas.
Ketika Gen Z hari ini membuat petisi digital lintas kampus untuk mengawal kebijakan publik, ketika komunitas lingkungan, komunitas literasi, dan komunitas content creator bersatu untuk isu yang sama, ketika anak Papua dan anak Aceh berkolaborasi di Discord untuk membuat gerakan sosial itulah Jong Sumatranen Bond versi digital.
Tema ini ingin menegaskan: Keberanian pemuda 1928 bukan hanya berani melawan penjajah, tetapi berani melawan ego sendiri. Dan keberanian itulah yang harus dihidupkan kembali oleh Gen Z: berani keluar dari komunitas nyaman, berani berkoalisi, karena persatuan hari ini tidak lagi dirajut di ruang kongres, tetapi di ruang kolaborasi digital.
Inilah yang akan kita gali bersama. Bagaimana keberanian melebur ego itu dihidupkan dalam Sumpah Pemuda hari ini.

















































































