Koperasi Desa Merah Putih dan Risiko Menjadikan Desa Sekadar Pasar

​Oleh: Ketua PP Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) Bidang Nelayan, Sarana dan Prasarana, Masady Manggeng.
Sabtu, 20 Juni 2026 21:43 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

​Persoalan utama ekonomi desa bukan panjang atau pendeknya rantai distribusi, melainkan siapa yang menikmati manfaat terbesar dari rantai ekonomi tersebut.

Jakarta, Gesuri.id - ​Di atas kertas, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) digambarkan sebagai instrumen besar untuk membangun ekonomi desa. Narasi yang dibangun terdengar menjanjikan: memperkuat ekonomi rakyat, memotong rantai distribusi, meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan, sekaligus menghadirkan pemerataan pembangunan hingga ke pelosok negeri.

​Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat pertanyaan mendasar yang patut diajukan. Pertanyaannya, apakah yang sedang dibangun benar-benar kedaulatan ekonomi desa, atau justru perluasan jaringan distribusi yang membuat desa semakin mudah membeli barang, tetapi belum tentu semakin mampu menciptakan dan menikmati manfaat ekonomi dari hasil produksinya sendiri?

​Pertanyaan ini penting karena persoalan utama desa selama ini bukanlah kekurangan tempat berbelanja. Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah lemahnya posisi tawar petani, nelayan, peternak, dan pelaku UMKM dalam rantai ekonomi nasional.

​Petani menghasilkan komoditas, tetapi menikmati keuntungan paling kecil. Nelayan menangkap ikan, tetapi sering kali tetap hidup dalam ketidakpastian. Pelaku UMKM memproduksi barang, tetapi kesulitan memperoleh akses pasar yang memadai. Sementara itu, manfaat ekonomi terbesar justru berpindah ke berbagai mata rantai setelah produk keluar dari tangan produsen.

Baca juga :