Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto, menyoroti sistem algoritma platform e-commerce yang memaksa pelaku usaha mengeluarkan biaya iklan besar demi mempertahankan visibilitas produk.Persaingan di platform digital kini dinilai bukan lagi berdasar kualitas, melainkan kemampuan modal seller.
Kritik tersebut ditujukan pada platform besar seperti Shopee, TikTok Shop, Blibli, dan Lazada yang dianggap menciptakan ekosistem berbiaya tinggi. Dilansir dari Teknologi, para penjual saat ini harus menanggung potongan komisi hingga biaya layanan yang berkisar antara 15% sampai 25% dari total penjualan.
Ini pay to survive system, bukan yang paling bagus yang menang, tapi yang paling kuat bakar margin, kata Darmadi Durianto, dikutip Senin (11/5/2026).
Ia menegaskan bahwa penggunaan iklan berbayar kini bukan lagi pilihan opsional bagi pedagang, melainkan tekanan sistemik agar produk tidak tenggelam.
Selain biaya iklan, para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menghadapi tantangan penahanan saldo penjualan oleh platform. Kondisi ini diperberat dengan beban risiko pengembalian barang yang sebagian besar masih harus ditanggung oleh pihak penjual.