Evita Nursanty Soroti Tingginya Ketergantungan Industri Farmasi akan Bahan Baku Impor

Kondisi ini dianggap menjadi tantangan serius bagi kemandirian dan ketahanan sektor kesehatan nasional.
Jum'at, 30 Januari 2026 13:55 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Jakarta, Gesuri.id - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty menyoroti tingginya ketergantungan industri farmasi dalam negeri terhadap bahan baku impor yang dinilai masih sangat dominan.

Kondisi ini dianggap menjadi tantangan serius bagi kemandirian dan ketahanan sektor kesehatan nasional. Terlebih, terungkapnya fakta bahwa 95 persen bahan baku obat yang digunakan oleh industri farmasi di Indonesia masih berasal dari luar negeri.

Ya kita miris juga ya. Ketergantungan daripada bahan baku, Daripada industri farmasi kita ini sangat tinggi ya Pak Dirjen. Tadi dibilang 95%, nah berarti kan ini PR bagi kita. Bagaimana ini? Kenapa sih kita gak bisa membuat industri ya kan bahan baku itu sendiri, terang Evita usai memimpin rapat Komisi VII DPR dengan Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin terkait kondisi industri farmasi dan biofarmasi nasional, di PT Biofarma, Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/1/2026).

Baca:GanjarTekankan Kepemimpinan Strategis

Dalam rapat yang turut dihadiri oleh Holding BUMN Farmasi yakni Direktur Utama Bio Farma, Direktur Utama Kimia Farma, dan Direktur Utama Indofarma di PT Biro Farma, diketahui jika terdapat dua tantangan utama yang memengaruhi industri farmasi nasional. Diantaranya, tingginya ketergantungan bahan baku obat (BBO) yang mencapai lebih dari 90 persen dan persaingan harga e-katalog.

Baca juga :