Jakarta, Gesuri.id Empat hari sebelum proklamasi kemerdekaan, Indonesia berada dalam situasi yang sangat mencekam. Kekosongan kekuasaan (vacuum of power) pasca-kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik memicu perdebatan sengit antara golongan muda dan golongan tua mengenai cara memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Sejarah mencatat, segalanya bermula pada 14 Agustus 1945. M. Jusuf Ronodipuro, seorang reporter Radio Hosokyoku, menerima kabar dari rekannya, Mochtar Lubis, bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Sebagai staf bagian monitoring, Mochtar menjadi satu-satunya orang Indonesia yang memiliki akses untuk menyimak siaran radio asing.
Di hari yang sama, Jusuf diperintahkan meliput kedatangan Sukarno dan Mohammad Hatta di Bandara Kemayoran, Jakarta. Keduanya baru saja kembali dari Dalat, Vietnam, usai memenuhi panggilan Jenderal Hisaichi Terauchi.
Sejarawan Rushdy Hoesein menjelaskan, dalam pertemuan di Dalat, pihak Jepang telah memberi restu kepada para pendiri bangsa untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun, implementasinya memicu dinamika di lapangan.
Bung Karno bertanya, Kapan kami resmi menyelenggarakan proklamasi? Jenderal Terauchi menjawab, Itu tergantung tuan-tuan sebagai ketua dan wakil ketua panitia persiapan, kami dengan senang hati. Jadi, tidak banyak yang dibicarakan, ujar Rushdy saat ditemui CNNIndonesia.com.