Ikuti Kami

14 Agustus 1945, Bung Karno: Aku Merasakan Udara Ibu Kota Dipenuhi Uap Revolusi yang Siap Meledak

Tanggal 14 Agustus 1945 merupakan salah satu hari paling monumental dan bergelora dalam episode pembuka Revolusi Indonesia.

14 Agustus 1945, Bung Karno: Aku Merasakan Udara Ibu Kota Dipenuhi Uap Revolusi yang Siap Meledak
Bung Karno (tengah). (Foto: kompas.com)

Jakarta, Gesuri.id - "Saat kakiku kembali memijak tanah Jakarta pada tanggal 14 Agustus itu, aku merasakan udara ibu kota dipenuhi oleh uap revolusi yang siap meledak. Di hadapan rakyat yang menyambut di Kemayoran, aku memekikkan janji yang keluar dari kedalaman jiwaku: 'Kalau dulu saya berkata, Indonesia akan merdeka sebelum jagung berbunga, sekarang saya katakan kepada saudara-saudara, sebelum jagung berbuah, Indonesia pasti merdeka!' Aku menyaksikan mata rakyat berkaca-kaca menahan haru, namun di dalam hatiku sendiri, aku tahu bahwa dalam beberapa jam ke depan, aku harus bertaruh nyawa dan kehormatan memimpin bangsa ini menembus badai kekosongan kekuasaan."

— Bung Karno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Dalam otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Bung Karno mengabadikan kembali petikan pidato bersejarah dan gelora batin yang ia rasakan pada tanggal 14 Agustus 1945 tersebut.

Tanggal 14 Agustus 1945 memang merupakan salah satu hari paling monumental dan bergelora dalam episode pembuka Revolusi Indonesia. Pada hari itulah kepulangan Bung Karno bersama Mohammad Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat dari Dalat, Vietnam, menyentuh tanah air melalui Bandara Kemayoran, Jakarta. 

Pendaratan tersebut tidak hanya menandai berakhirnya misi diplomasi di Vietnam, tetapi juga menempatkan Bung Karno secara langsung di tengah pusaran krisis politik paling panas, dimana desas-desus kekalahan total Jepang telah berembus kencang di kalangan pemuda Jakarta.

Suasana di Bandara Kemayoran pada tanggal 14 Agustus 1945 dipenuhi oleh gabungan antara kecemasan, harapan yang membara, dan kewaspadaan tinggi dari aparat keamanan Jepang. 

Di hadapan kerumunan massa dan tokoh-tokoh pergerakan yang menyambutnya di landasan terbang, Bung Karno yang baru saja melangkah keluar dari pesawat menyampaikan pidato singkat namun membakar semangat yang menjadi salah satu komitmen sejarah paling terkenal.

Dinamika dan Dilema Bung Karno Pada 14 Agustus 1945

Penjabaran mendalam dari kutipan dan peristiwa tanggal 14 Agustus 1945 ini memperlihatkan kejelian serta beban retorika Bung Karno. 

Pernyataan kiasan mengenai "jagung berbuah" yang diucapkan Bung Karno di Kemayoran bukan sekadar kalimat puitis untuk membakar semangat massa, melainkan sebuah kalkulasi waktu yang amat presisi. 

Tanaman jagung membutuhkan waktu beberapa bulan dari berbunga hingga berbuah, dan dengan ungkapan tersebut, Bung Karno memberikan sinyal tegas kepada rakyat dan Golongan Muda bahwa detik-detik kemerdekaan Indonesia bukanlah lagi urusan tahun atau bulan, melainkan urusan hari yang sangat dekat.

Namun, begitu Bung Karno melangkah keluar dari bandara dan tiba di kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta, ketenangan diplomasi yang dirancangnya di Vietnam langsung dihantam gelombang tekanan politik dalam negeri. 

Sutan Sjahrir bersama perwakilan Golongan Muda langsung menemui Bung Karno dan Mohammad Hatta. Sjahrir menyampaikan kabar mengejutkan bahwa Sekutu melalui siaran radio luar negeri telah mengumumkan kekalahan tanpa syarat Kekaisaran Jepang. 

Sjahrir mendesak agar Bung Karno hari itu juga, tanggal 14 Agustus 1945, segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di luar kerangka Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), karena PPKI dianggap sebagai badan buatan Jepang yang tidak berhak melahirkan negara merdeka.

Di sinilah letak dilema kepemimpinan Bung Karno yang paling berat pada tanggal 14 Agustus 1945. Bung Karno menolak untuk bertindak gegabah hanya berdasarkan desakan emosional para pemuda dan berita radio luar negeri yang belum terkonfirmasi secara resmi oleh pihak militer Jepang (Gunseikanbu) di Jakarta. 

Bung Karno mengkhawatirkan konsekuensi pertumpahan darah yang sangat dahsyat.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa meskipun Tokyo berada di ambang menyerah, ratusan ribu serdadu Jepang di Jawa dan Sumatra masih memegang senjata lengkap, artileri, dan tank. 

Jika proklamasi ditiupkan secara liar pada 14 Agustus tanpa perhitungan matang dan tanpa konsolidasi dengan para pimpinan daerah, tentara Jepang yang panik bisa saja melakukan pembantaian massal terhadap para pemuda dan rakyat Indonesia yang belum memiliki persenjataan memadai.

Sementara itu, di pihak otoritas pendudukan Jepang di Jakarta pada tanggal 14 Agustus 1945, suasana kerja di kantor-kantor pemerintahan militer berubah menjadi sangat dingin dan penuh misteri. 

Pejabat militer Jepang di Batavia berpura-pura tidak tahu mengenai berita penyerahan diri Tokyo demi menjaga status quo sesuai perintah rahasia Sekutu, namun di saat yang sama mereka mulai membakar dokumen-dokumen rahasia intelijen Kempeitai. 

Ketika Bung Karno dan Hatta berusaha menemui pimpinan militer Jepang di Jakarta pada sore hingga malam hari tanggal 14 Agustus untuk mengonfirmasi kebenaran berita kekalahan tersebut, para pejabat Jepang bersikap mengelak dan menyatakan bahwa mereka belum menerima telegram resmi dari Tokyo.

(Berbagai sumber)

Quote