Sugondo Djojopuspito dan Mohammad Yamin: Ketika Gagasan Pemuda Mengubah Arah Sejarah

Sejarah bangsa tidak selalu dimulai dari medan perang atau keputusan para penguasa.
Sabtu, 17 Oktober 2026 17:00 WIB Jurnalis - Kristin Tambunan

Jakarta, Gesuri.id - Sejarah bangsa tidak selalu dimulai dari medan perang atau keputusan para penguasa. Terkadang, perubahan besar justru lahir dari sebuah ruang pertemuan sederhana, melalui keberanian berbicara, kecerdasan merumuskan gagasan, dan kesediaan untuk mengesampingkan perbedaan. Itulah pelajaran penting dari Kongres Pemuda II pada 2728 Oktober 1928.

Di balik lahirnya Sumpah Pemuda, terdapat dua tokoh yang memainkan peran strategis, yakni Sugondo Djojopuspito sebagai ketua kongres dan Mohammad Yamin sebagai perumus ikrar. Keduanya membuktikan bahwa kekuatan pemuda bukan hanya terletak pada semangat, melainkan juga pada kemampuan mengubah semangat menjadi komitmen bersama.

Pada masa itu, Indonesia belum menjadi negara merdeka. Masyarakat hidup di bawah kolonialisme Belanda, sementara organisasi pemuda masih banyak tumbuh berdasarkan latar belakang kedaerahan. Perbedaan identitas tersebut bukan persoalan sepele karena dapat membatasi ruang pergerakan apabila tidak dikelola dengan baik. Namun, para pemuda mulai menyadari bahwa perjuangan yang berjalan sendiri-sendiri akan sulit menghasilkan perubahan besar. Menurut buku Sumpah Pemuda: Latar Sejarah dan Pengaruhnya bagi Pergerakan Nasional terbitan Museum Sumpah Pemuda, Kongres Pemuda II menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan pergerakan nasional Indonesia. Persatuan mulai dipandang bukan sekadar cita-cita, melainkan strategi untuk membangun kekuatan bersama.

Dalam situasi tersebut, Sugondo Djojopuspito memegang peranan penting. Sebagai ketua Kongres Pemuda II, ia bertanggung jawab mengarahkan jalannya pertemuan yang melibatkan berbagai organisasi pemuda. Ia bukan sekadar pemimpin acara, melainkan sosok yang harus memastikan perbedaan pandangan tidak menggagalkan tujuan bersama. Tantangannya jelas: menyatukan para pemuda yang memiliki latar belakang organisasi, daerah, dan pemikiran yang beragam. Kepemimpinan seperti ini membutuhkan ketegasan sekaligus kebijaksanaan. Sugondo menunjukkan bahwa pemimpin yang efektif bukanlah orang yang memaksakan kehendak, melainkan orang yang mampu menjaga agar setiap perbedaan tetap bergerak menuju tujuan yang sama.

Sikap tersebut tercermin dalam semangat pembukaan kongres pada 27 Oktober 1928. Dalam catatan sejarah yang dipublikasikan Museum Sumpah Pemuda, Sugondo menekankan pentingnya memperkuat persatuan dan memerangi perpecahan. Pesan itu relevan dengan keadaan saat ini, ketika perbedaan pendapat kerap berubah menjadi pertentangan yang sulit dikendalikan. Dalam konteks kongres, diplomasi bukan berarti menghindari perbedaan, tetapi mencari titik temu tanpa menghilangkan tujuan utama. Sugondo memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus tampil melalui pidato yang panjang atau pernyataan yang keras. Terkadang, kepemimpinan justru terlihat dari kemampuan menjaga ruang dialog agar kesepakatan dapat lahir secara kolektif.

Baca juga :