ASRAMA pelajar di Jalan Kramat Raya 106, Batavia, pertengahan 1928. Di salah satu kamar, seorang pemuda berusia 21 tahun duduk di meja kayu. Di depannya, buku-buku hukum dan catatan-catatan keuangan berserakan. Namanya Amir Sjarifuddin Harahap—atau yang lebih dikenal sebagai Amir Sjarifuddin. Ia baru saja dipercaya sebagai Bendahara dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II, mewakili Jong Bataks Bond. Tugasnya bukanlah berbicara di mimbar atau merumuskan teks ikrar. Tugasnya adalah memastikan bahwa kongres itu bisa berjalan—secara finansial.
Di antara nama-nama besar seperti Soegondo, Yamin, dan Djoko Marsaid, nama Amir sering kali hanya disebut sebagai "Bendahara" dalam daftar susunan panitia. Namun, di balik jabatan yang tampak administratif itu, tersimpan kisah tentang seorang pemuda cerdas, orator ulung, dan pemain biola yang kelak menjadi salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Indonesia. Ia adalah arsitek Sumpah Pemuda yang mengelola dana kongres, tetapi juga otak yang menyumbang gagasan-gagasan penting bagi perumusan ikrar. Seperti yang ditulis Ahmad Syafii Maarif dalam Republika, "Amir Sjarifuddin adalah salah seorang otak Sumpah Pemuda 1928".
Dari Medan ke Leiden: Pendidikan Seorang Pemikir
Amir Sjarifuddin lahir pada 27 April 1907 di Medan, Sumatera Utara. Ia berasal dari keluarga Batak yang mampu, dan sejak kecil ia telah mengecap pendidikan Belanda di Europeesche Lagere School (ELS) Medan sekitar pertengahan 1910-an. Pada Desember 1915, ia tercatat masuk sekolah dasar di Sibolga dan menyelesaikan pendidikan dasarnya pada 1921.
Kecerdasannya sudah terlihat sejak muda. Ia fasih dalam beberapa bahasa asing, antara lain Yunani klasik, Latin, Prancis, dan Inggris. Ia juga pembaca sastra dan berbakat dalam berorganisasi. Setelah lulus dari pendidikan dasar, atas tawaran saudara sepupunya, T.S.G. Mulia, yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad, Amir melanjutkan sekolahnya ke Leiden, Belanda.
Di Leiden, ia memasuki Stedelijk Gymnasium—sekolah non-agama. Pada September 1925, ia pindah ke Stedelijk Gymnasium di Haarlem. Selama periode 1926–1927, ia aktif sebagai anggota pengurus perhimpunan siswa Gymnasium di Haarlem, dan sering terlibat dalam diskusi-diskusi kelompok Kristen. Menurut kawan sekolahnya, Amir ingin mengenal kebudayaan dan pemikiran Belanda dengan baik, karena ia akan melawan mereka dengan budaya dan pemikiran itu untuk membebaskan negerinya.
Pada September 1927, Amir pulang ke Indonesia setelah lulus ujian tingkat kedua. Ia melanjutkan pendidikan tinggi bidang hukum di Rechtshoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Batavia. Di Batavia inilah, ia menempati asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106—tempat yang sama yang kelak menjadi lokasi Kongres Pemuda II.
Bendahara Kongres Pemuda II: Tugas di Balik Layar
Pada 3 Mei 1928 dan 12 Agustus 1928, para pemuda dari berbagai organisasi menggelar pertemuan untuk membahas persiapan Kongres Pemuda II. Dalam pertemuan itu, mereka membahas pembentukan panitia, susunan acara, waktu, tempat, dan biaya. Biaya kongres diperkirakan mencapai f 250,- dan akan ditanggung oleh organisasi-organisasi peserta serta sumbangan sukarela.
Dalam struktur kepanitiaan yang terbentuk, Amir Sjarifuddin dipercaya sebagai Bendahara, mewakili Jong Bataks Bond. Ia bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan dan anggaran kongres. Tugasnya mencakup memastikan bahwa dana yang terkumpul dari berbagai organisasi cukup untuk menyewa tiga gedung berbeda—Katholieke Jongenlingen Bond, Oost Java Bioscoop, dan Indonesische Clubgebouw—serta membiayai kebutuhan akomodasi dan sosialisasi kongres.
Namun, peran Amir jauh melampaui pembukuan. Menurut berbagai sumber, ia juga ikut serta dalam mencetuskan ide-ide selama perumusan naskah Sumpah Pemuda. Ketika Mohammad Yamin merumuskan isi teks Sumpah Pemuda, Amir sangat aktif dalam memimpin sidang dan menyetujui hasil rumusan tersebut. Ia bukan sekadar bendahara yang mencatat pengeluaran. Ia adalah pemikir yang duduk di meja yang sama dengan para perumus, menyumbangkan gagasan-gagasan untuk ikrar yang akan mengguncang sejarah.
Jiwa Pemimpin yang Berpikiran Maju
Amir dikenal sebagai pemuda yang berjiwa pemimpin dan berpikiran maju. Dalam suasana Kongres Pemuda II yang penuh dengan perdebatan dan ketegangan, kehadirannya memberikan stabilitas. Ia adalah sosok yang mampu menjembatani perbedaan—sebuah kualitas yang kelak membawanya menjadi Perdana Menteri Indonesia pada masa revolusi.
Ahmad Syafii Maarif menggambarkan Amir sebagai "cerdas, orator, pemain biola, tetapi emosional". Kombinasi kecerdasan, kemampuan berorasi, dan sensitivitas seni inilah yang membuatnya menonjol di antara para pemuda lainnya. Sebagai pemimpin pemuda Batak, Amir berada dalam proses transformatif yang krusial: dari penganut patriotisme lokal menjadi nasionalis Indonesia. Di tahun 1920-an, nasionalisme Indonesia telah menjadi kredo para pemuda dengan tujuan tunggal: kemerdekaan bangsa.
Setelah Sumpah Pemuda: Jalan Panjang Seorang Pejuang
Setelah Kongres Pemuda II, Amir terus aktif dalam pergerakan nasional. Pada tahun 1928 hingga 1930, ia menjadi pemimpin redaksi majalah Indonesia Raja yang diterbitkan oleh Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia (PPPI). Ia juga menjadi pengurus di organisasi Jong Sumatranen Bond antara 1929–1930. Pada tahun 1931, ia menjadi propagandis Partai Indonesia (Partindo) dan aktif dalam kelompok diskusi. Pada Juli 1931, ia menjadi wakil ketua Partindo cabang Jakarta.
Amir menyelesaikan pendidikan hukumnya pada 5 Desember 1933. Pada Desember 1937, ia terdaftar sebagai pengacara di Mahkamah Agung dan menjalankan profesinya di Sukabumi hingga 1938.
Setelah kemerdekaan, karier politiknya melesat. Ia menjabat sebagai Menteri Penerangan dalam Kabinet Presidensial (19 Agustus–14 November 1945), Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Sjahrir I (14 November 1945–12 Maret 1946), Menteri Pertahanan dalam Kabinet Sjahrir II (12 Maret–2 Oktober 1946), dan Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946–27 Juni 1947). Puncaknya, ia menjadi Perdana Menteri dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II (3 Juli 1947–29 Januari 1948).
Tragedi di Akhir Hayat
Namun, kisah Amir tidak berakhir dengan gemilang. Ahmad Syafii Maarif menulis bahwa "di akhir hayatnya Amir mengalami tragedi sejarah sebagai risiko dari pilihan politiknya". Ia terlibat dalam Peristiwa Madiun 1948—sebuah pemberontakan yang dipimpin oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Front Demokrasi Rakyat (FDR). Amir, yang saat itu telah berpindah agama menjadi Kristen sekitar 1935, memilih untuk bergabung dengan pemberontakan bersenjata terhadap pemerintah Indonesia.
Ia ditangkap dan dieksekusi sebagai pengkhianat pada 19 Desember 1948 di Solo, Jawa Tengah. Ia meninggal pada usia 41 tahun—seorang pemuda yang pernah duduk di meja panitia Kongres Pemuda II, yang pernah mengelola dana sebesar f 250 untuk sebuah kongres yang mengubah sejarah, dan yang pernah menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia yang masih muda.
Epilog: Bendahara yang Mengubah Sejarah
Amir Sjarifuddin adalah tokoh yang jarang disebut dalam narasi populer Sumpah Pemuda. Namanya sering kali hanya muncul sebagai "Bendahara" dalam daftar susunan panitia. Namun, di balik jabatan itu, ada seorang pemuda yang mengelola dana kongres dengan cermat, menyumbang gagasan dalam perumusan ikrar, dan memimpin sidang dengan berani ketika momen-momen kritis tiba.
Ia adalah arsitek yang bekerja di balik layar—bukan perumus yang menulis teks, bukan orator yang mengguncang mimbar, tetapi pengelola yang memastikan bahwa semua bisa berjalan. Ia adalah otak yang mengelola dana dan gagasan dengan sama seriusnya. Dan ketika Kongres Pemuda II berakhir, ia tidak berhenti. Ia terus berjuang, terus menulis, terus berorganisasi, hingga akhirnya mencapai puncak karier politiknya sebagai Perdana Menteri.
Tragedi di akhir hayatnya tidak menghapus perannya dalam Sumpah Pemuda. Ia tetap menjadi bagian dari "putra dan putri Indonesia" yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Ia adalah Bendahara Kongres Pemuda II—sebuah jabatan yang tampak kecil, tetapi menopang bangunan besar yang kita kenal sebagai Indonesia

















































































