Ikuti Kami

R.M. Djoko Marsaid: Wakil Ketua yang Membuka Rapat, Lalu Mengundurkan Diri

Djoko Marsaid adalah wakil ketua yang memastikan roda kongres tetap berputar ketika ketua berhalangan. Ia adalah penjaga kesinambungan

R.M. Djoko Marsaid: Wakil Ketua yang Membuka Rapat, Lalu Mengundurkan Diri
Djoko Marsaid adalah wakil ketua yang memastikan roda kongres tetap berputar ketika ketua berhalangan. Ia adalah penjaga kesinambungan

BAYANGKAN pagi hari, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop di Batavia. Udara masih sejuk, tetapi kursi-kursi kayu di dalam gedung itu sudah terisi oleh puluhan pemuda yang datang dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka menunggu. Ketua Kongres, Soegondo Djojopoespito, berhalangan hadir pada sesi pagi itu. Maka, seorang pemuda berusia 25 tahun berdiri dari kursi wakil ketua. Namanya Raden Mas Djoko Marsaid—atau yang lebih dikenal sebagai R.M. Djoko Marsaid. Dengan suara tenang namun tegas, ia membuka rapat kedua Kongres Pemuda II.

Momen itu jarang disorot dalam narasi besar Sumpah Pemuda. Sejarah lebih sering menyebut Soegondo, Yamin, atau Supratman. Namun, di balik layar, Djoko Marsaid adalah wakil ketua yang memastikan roda kongres tetap berputar ketika ketua berhalangan. Ia adalah penjaga kesinambungan—sosok yang memimpin rapat ketika orang lain absen, dan yang kemudian mengambil keputusan sulit ketika prinsipnya diuji.

Siapa Djoko Marsaid?
Djoko Marsaid lahir di Malang, 29 Mei 1903, dengan nama lengkap Djokomarsaid Tirtodiningrat. Ia adalah putra Jawa dari keluarga ningrat—sebuah latar belakang yang memberinya akses pada pendidikan yang saat itu masih terbatas bagi pribumi. Setelah kebijakan Trias Politica membuka pintu pendidikan bagi anak bangsa, Djoko Marsaid menempuh studi di OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren), sekolah persiapan bagi calon pegawai bumiputera di Hindia Belanda.

Di OSVIA inilah, Djoko Marsaid mulai mengasah semangat kritis-nya. Ia bukan tipe pemuda yang menerima keadaan begitu saja. Ia membaca, berdiskusi, dan bergabung dengan Jong Java—organisasi kepemudaan yang lahir dari rahim Tri Koro Dharmo. Di Jong Java, ia tumbuh menjadi aktivis yang dikenal berwibawa dan memiliki semangat juang tinggi.

Sebelum terjun ke dunia organisasi secara penuh, Djoko Marsaid sempat bekerja sebagai wartawan di Surabaya pada tahun 1926. Pengalaman ini membentuknya menjadi pribadi yang terbiasa menyuarakan pendapat dan menuliskan gagasan. Ketika ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Jong Java, ia membawa serta seluruh pengalaman itu—kemampuan berorganisasi, ketajaman berpikir, dan keberanian untuk bersikap.

Wakil Ketua Kongres Pemuda II
Ketika PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) menggagas Kongres Pemuda II, mereka mengusulkan fusi—peleburan seluruh organisasi kepemudaan menjadi satu wadah kebangsaan. Panitia pun dibentuk. Soegondo Djojopoespito dari PPPI terpilih sebagai ketua. Dan untuk posisi wakil ketua, nama R.M. Djoko Marsaid dari Jong Java muncul.

Pemilihan Djoko Marsaid bukanlah tanpa alasan. Sebagai Ketua Jong Java, ia memimpin organisasi pemuda terbesar dan tertua di Hindia Belanda saat itu. Kehadirannya di kursi wakil ketua adalah simbol bahwa Jong Java—yang selama ini dianggap sebagai organisasi kedaerahan yang paling besar—mendukung penuh gagasan persatuan. Dalam susunan panitia Kongres Pemuda II, Djoko Marsaid duduk mendampingi Soegondo, dengan Mohammad Yamin sebagai sekretaris dan Amir Sjarifuddin sebagai bendahara.

Pada rapat kedua Kongres Pemuda II, pagi 28 Oktober 1928, Soegondo berhalangan hadir. Djoko Marsaid mengambil alih pimpinan rapat. Ia membuka sesi itu dengan tenang, memastikan bahwa agenda kongres berjalan sesuai rencana. Pembicara pertama dalam rapat itu adalah Djohan Mohammad Tjaja dari Jong Islamieten Bond. Setelah itu, Poernomowoelan—guru Taman Siswa—berbicara tentang pendidikan yang demokratis, dan Sarmidi Mangunsarkoro menekankan pentingnya pendidikan kebangsaan.

Djoko Marsaid memimpin rapat itu dengan disiplin dan ketertiban. Ia bukan orator yang menggelegar, tetapi ia adalah pemimpin yang memastikan bahwa setiap suara didengar dan setiap agenda berjalan. Dalam sebuah kongres yang dihadiri oleh ratusan pemuda dari berbagai organisasi dengan ego masing-masing, kemampuan untuk menjaga ketertiban adalah kualitas yang tak ternilai.

Perbedaan Pendapat tentang Fusi: Keputusan yang Menyakitkan
Namun, di balik ketenangannya, Djoko Marsaid menyimpan sebuah perbedaan prinsip yang kelak memaksanya mengambil keputusan yang menyakitkan. Sejak awal, PPPI mendesak agar semua perkumpulan pemuda yang bersifat kedaerahan melebur menjadi satu atas dasar kebangsaan Indonesia. Gagasan fusi ini didukung oleh banyak pihak, termasuk Soegondo dan Yamin (yang kemudian berubah pikiran).

Tetapi Djoko Marsaid tidak sepenuhnya setuju. Sebagai Ketua Jong Java, ia memahami bahwa fusi bukanlah hal yang mudah. Jong Java memiliki tradisi, kegiatan, dan identitas kejawaan yang telah dibangun selama lebih dari satu dekade. Meleburkan diri berarti melepaskan sebagian dari identitas itu. Djoko Marsaid, seperti banyak anggota Jong Java lainnya, merasa bahwa federasi—kerja sama longgar tanpa meleburkan identitas—mungkin lebih realistis.

Perbedaan pendapat ini mencapai puncaknya pada rapat ketiga Kongres Pemuda II. Dalam rapat yang digelar di Gedung Indonesische Clubgebouw pada malam 28 Oktober 1928 itu, Djoko Marsaid mengundurkan diri dari posisinya sebagai wakil ketua. Menurut catatan sejarah, ia mengundurkan diri karena ada perbedaan pendapat tentang fusi organisasi.

Keputusan itu bukanlah keputusan yang diambil secara tergesa-gesa. Djoko Marsaid telah menyampaikan pandangannya. Ia bahkan mengutip kisah-kisah dari Ramayana dan Mahabharata untuk menggambarkan pentingnya persatuan bangsa. Namun, mayoritas peserta kongres telah memilih jalan fusi. Djoko Marsaid memahami bahwa ia tidak bisa lagi memimpin rapat yang akan menghasilkan keputusan yang tidak sepenuhnya ia setujui.

Posisinya sebagai wakil ketua kemudian digantikan oleh Soedjono Djoened Poesponegoro, yang dianggap setuju dengan fusi. Dengan pergantian itu, Kongres Pemuda II melanjutkan agenda terakhirnya: pembacaan keputusan kongres dan pengucapan ikrar Sumpah Pemuda.

Setelah Kongres: Jalan Seorang Negarawan
Djoko Marsaid meninggalkan Kongres Pemuda II sebelum ikrar dibacakan. Namun, ia tidak meninggalkan perjuangan. Setelah kongres, ia menempuh studi ilmu hukum di Leiden, Belanda. Sekembalinya ke Indonesia, ia bekerja sebagai Sekretaris Pakubuwono XI di Surakarta pada tahun 1939. Ia bahkan menikah dengan putri Pakubuwono XI, Bandara Raden Ajeng (BRA) Kus Sapatinten, dan menyandang gelar Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Djokomarsaid Tirtodiningrat.

Kariernya di dunia pendidikan dan pemerintahan terus menanjak. Pada pertengahan tahun kuliah 1956–1957, Presiden Soekarno mengangkatnya sebagai Rektor Universitas Hasanuddin di Makassar, menggantikan Acting Presiden Prof. Mr. A.G. Pringgodigdo. Surat Keputusan Presiden tertanggal 28 Maret 1957 No. 107/M tahun 1957 menjadi dasar pengangkatannya.

Sebelum menjadi Rektor Unhas, Djoko Marsaid—yang telah meraih gelar guru besar—menjabat sebagai Kepala Inspeksi Pendidikan Ekonomi di Jakarta. Pada Februari 1960, ia mengundurkan diri dari jabatannya atas permintaan sendiri untuk dipindahkan sebagai Guru Besar Biasa (Tetap) pada Fakultas Hukum Universitas Airlangga di Surabaya. Di Unair, ia menjabat Dekan Fakultas Hukum pada 1961–1962, dan kemudian Dekan Fakultas Ekonomi pada 1962–1964.

Djoko Marsaid wafat pada 29 Mei 1969 dan dimakamkan di Astana Imogiri, Yogyakarta.

Epilog: Wakil Ketua yang Berani Berdiri di Prinsipnya
Djoko Marsaid adalah tokoh yang jarang disebut dalam narasi populer Sumpah Pemuda. Ia tidak merumuskan teks ikrar, tidak melantunkan lagu Indonesia Raya, dan tidak memimpin kongres hingga akhir. Namun, ia adalah bagian tak terpisahkan dari peristiwa itu. Ia adalah wakil ketua yang membuka rapat kedua ketika ketua berhalangan. Ia adalah pemimpin yang menjaga ketertiban di tengah perdebatan yang memanas. Dan ia adalah sosok yang berani mengambil sikap—bahkan ketika sikap itu berarti harus mundur dari posisinya sendiri.

Dalam sebuah kongres yang mengikrarkan "satu nusa, satu bangsa, satu bahasa", Djoko Marsaid mengingatkan kita bahwa persatuan bukanlah keseragaman. Ia adalah seorang Jawa yang mencintai identitas kejawaannya, tetapi ia juga seorang Indonesia yang mencintai bangsanya. Ia tidak menolak persatuan. Ia hanya berbeda pendapat tentang cara mencapainya. Dan dalam demokrasi yang baru saja lahir di ruang kongres itu, perbedaan pendapat adalah hak yang sah.

Siti Soendari, Emma Poeradiredja, Mohammad Yamin, Soegondo—nama-nama ini mungkin lebih sering disebut. Tetapi di balik mereka, ada seorang pemuda dari Malang yang duduk di kursi wakil ketua, dengan rambut yang selalu rapi dan sikap yang penuh disiplin, memimpin rapat di pagi hari, lalu mundur dengan kepala tegak di malam hari. Namanya adalah R.M. Djoko Marsaid. Dan warisannya adalah keberanian untuk berdiri di atas prinsip, bahkan ketika arus sejarah bergerak ke arah yang berbeda

Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

Quote