Ikuti Kami

Johan Mohammad Cai: Peranakan Tionghoa yang Menjadi Jembatan Persatuan

Johan adalah satu-satunya peranakan Tionghoa yang duduk di kursi kepanitiaan inti sebuah posisi yang menunjukkan kepercayaan penuh

Johan Mohammad Cai: Peranakan Tionghoa yang Menjadi Jembatan Persatuan
Johan adalah satu-satunya peranakan Tionghoa yang duduk di kursi kepanitiaan inti sebuah posisi yang menunjukkan kepercayaan penuh

Di sebuah ruangan di Batavia pada tahun 1928. Di tengah hiruk-pikuk persiapan Kongres Pemuda II, seorang pemuda berusia 26 tahun duduk di antara para aktivis dari berbagai organisasi. Namanya Johan Mohammad Cai—atau yang juga dikenal sebagai Djohan Mohammad Tjai. Ia bukanlah pemuda Jawa, bukan pula pemuda Sumatra atau Ambon. Ia adalah peranakan Tionghoa yang memeluk Islam, seorang Muslim dari keturunan yang saat itu sering dipandang sebagai "liyan" di tanah Hindia Belanda. Namun, di ruangan itu, ia duduk sebagai Pembantu I dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II—sebuah posisi yang menempatkannya di jantung persiapan lahirnya Sumpah Pemuda.

Kehadiran Johan dalam kepanitiaan itu bukanlah kebetulan. Ia adalah aktivis Jong Islamieten Bond (JIB)—organisasi pemuda Islam yang berdiri pada 1 Januari 1925 sebagai rumah bagi pemuda Muslim terpelajar dari berbagai latar belakang etnis. JIB adalah organisasi yang, dalam banyak hal, melampaui batas-batas kesukuan. Ia tidak didirikan atas dasar daerah, melainkan atas dasar keyakinan. Dan Johan—seorang peranakan Tionghoa Muslim—adalah bukti hidup bahwa Islam bisa menjadi jembatan yang menyatukan, bukan tembok yang memisahkan.

Siapa Johan Mohammad Cai?
Johan Mohammad Cai lahir di Lubuk Begalung, Padang, Sumatera Barat, pada 30 Juli 1902. Ia meninggal di Jakarta pada 8 Maret 1981 pada usia 78 tahun. Dalam beberapa catatan, ia juga disebut sebagai Johan Mahmud Tjaja.

Latar belakang keluarganya tidak banyak terdokumentasi. Namun, yang jelas, ia adalah seorang peranakan Tionghoa yang memeluk Islam—sebuah identitas yang pada masa itu tidak lazim. Dalam sebuah masyarakat yang masih terbagi oleh garis etnis dan agama, Johan memilih untuk berada di persimpangan. Ia tidak menanggalkan identitas Tionghoanya, tetapi ia juga tidak menjadikannya penghalang untuk menjadi bagian dari perjuangan kebangsaan.

Sejarawan Universitas Indonesia, Rushdy Hoesein, sebagaimana dikutip dalam tulisan Abdurrahman Baswedan dan Kwee Thiam Hong dalam buku Sumpah Pemuda, menyebut Johan sebagai salah satu peranakan Tionghoa yang terlibat aktif di Kongres Pemuda. Ia bukan satu-satunya: ada juga Kwee Thiam Hong dari Jong Sumatranen Bond, Oey Kay Sing, John Liau Tjoan Hok, dan Tjio Djin Kwie. Namun, Johan adalah satu-satunya peranakan Tionghoa yang duduk di kursi kepanitiaan inti—sebuah posisi yang menunjukkan kepercayaan penuh dari para pemuda dari berbagai organisasi.

Jong Islamieten Bond: Rumah bagi Pemuda Muslim Lintas Etnis
Untuk memahami peran Johan, kita perlu memahami JIB terlebih dahulu. JIB lahir dari sebuah perpecahan yang produktif di dalam Jong Java. Pada akhir Desember 1924, Raden Sjamsoeridjal—ketua Jong Java saat itu—mengusulkan agar Jong Java membuka kursus agama Islam bagi anggotanya. Usul itu ditolak dalam pemungutan suara yang berimbang. Sebagai ketua sidang, Sjam memilih untuk menolak usulannya sendiri demi menjaga persatuan organisasi. Beberapa hari kemudian, ia mundur dan mendirikan JIB pada 1 Januari 1925.

JIB bukanlah organisasi kedaerahan. Ia adalah organisasi pemuda Islam pertama yang tidak dikhususkan untuk identitas etnis tertentu. Sifatnya plural, menerima keanggotaan dari berbagai suku bangsa. H. Agus Salim diangkat sebagai penasihat, dan tokoh-tokoh muda seperti Mohammad Roem, Mohammad Natsir, dan Kasman Singodimedjo bergabung.

Dalam konteks inilah Johan menemukan rumahnya. Sebagai seorang peranakan Tionghoa yang memeluk Islam, ia mungkin merasa terpinggirkan dari organisasi kedaerahan—Jong Java untuk orang Jawa, Jong Sumatranen Bond untuk orang Sumatra, Jong Ambon untuk orang Ambon. Tetapi di JIB, ia tidak perlu menjadi "orang Jawa" atau "orang Sumatra". Ia cukup menjadi Muslim—dan pada saat yang sama, orang Indonesia.

Peran Johan dalam Persiapan Sumpah Pemuda
Pada 3 Mei 1928, di sebuah pertemuan di Clubgebouw, Jalan Kramat Raya, para pemuda dari berbagai organisasi mulai menyusun rencana untuk Kongres Pemuda II. JIB, melalui Johan, hadir dan menegaskan dukungannya terhadap program fusi—peleburan organisasi-organisasi kedaerahan menjadi satu wadah kebangsaan. Namun, ada satu catatan: JIB menginginkan agar fusi itu berdasarkan dasar Islam.

Posisi ini, tentu saja, tidak selalu diterima dengan baik. Beberapa organisasi pemuda nasionalis menentang keikutsertaan JIB dalam badan kontak, karena menganggap JIB hanya berdasarkan agama dan tidak bersifat nasionalis. Namun, JIB membuktikan sebaliknya. Dalam Kongres Pemuda II, JIB duduk di panitia inti. Johan Mohammad Cai dipercaya sebagai Pembantu I—posisi yang menempatkannya di antara Soegondo Djojopoespito (Ketua), R.M. Djoko Marsaid (Wakil Ketua), Mohammad Yamin (Sekretaris), dan Amir Sjarifuddin (Bendahara).

Tugas Seorang Pembantu I
Apa sebenarnya tugas seorang "Pembantu I"? Dalam struktur kepanitiaan Kongres Pemuda II, para pembantu bertugas mendampingi ketua, wakil ketua, sekretaris, dan bendahara dalam menjalankan tugas-tugas organisasi. Mereka adalah tangan kanan yang memastikan bahwa segala persiapan berjalan lancar—dari pengaturan tempat, sosialisasi kongres, pengumpulan dana, hingga koordinasi antarorganisasi.

Namun, peran Johan lebih dari sekadar administratif. Sebagai seorang peranakan Tionghoa Muslim yang duduk di kepanitiaan, ia adalah simbol hidup dari semangat inklusif yang menjadi ruh Sumpah Pemuda. Ia membuktikan bahwa persatuan Indonesia bukanlah persatuan yang eksklusif—bukan hanya untuk "pribumi", bukan hanya untuk satu agama, bukan hanya untuk satu suku. Persatuan Indonesia adalah persatuan yang merangkul semua, termasuk mereka yang secara etnis dan kultural berbeda.

Menurut beberapa sumber, Johan juga menyampaikan pidato tentang peran perempuan dalam masyarakat Indonesia, berharap adanya kesetaraan hak antara pria dan wanita dalam berkontribusi untuk bangsa. Gagasan ini, meskipun tidak selalu tercatat dalam narasi besar Sumpah Pemuda, menunjukkan bahwa Johan adalah seorang pemikir yang melampaui zamannya—seorang yang tidak hanya peduli pada persatuan lintas etnis, tetapi juga pada keadilan gender.

Simbol Inklusivitas dalam Sumpah Pemuda
Kehadiran Johan dalam Kongres Pemuda II adalah koreksi terhadap narasi sejarah yang sering kali terlalu "pribumi-sentris". Sumpah Pemuda bukanlah peristiwa yang hanya melibatkan pemuda dari suku-suku "asli" Nusantara. Ia adalah peristiwa yang melibatkan semua yang merasa bagian dari Indonesia—termasuk peranakan Tionghoa, peranakan Arab, dan siapa pun yang mengikatkan diri pada cita-cita kebangsaan.

Dalam sebuah artikel di CSEAS Hawaii, disebutkan bahwa "although no Chinese organization was involved, a young Chinese Peranakan named Johan Muhammad Chai, a delegation from the Young Islamien Bond, signed the Oath". Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung makna yang mendalam: seorang pemuda Tionghoa menandatangani ikrar yang menyatakan bahwa "putra dan putri Indonesia" adalah satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Johan adalah bukti bahwa "Indonesia" bukanlah identitas yang tertutup, melainkan identitas yang terbuka untuk semua yang mau merangkulnya.

Dalam sebuah masyarakat kolonial yang secara sistematis memisahkan kelompok berdasarkan ras dan etnis—di mana orang Tionghoa sering dipandang sebagai "orang asing" meskipun telah tinggal di Nusantara selama berabad-abad—kehadiran Johan di kursi kepanitiaan adalah tindakan politik yang radikal. Ia menantang logika kolonial yang membagi masyarakat ke dalam kategori-kategori yang kaku. Ia menunjukkan bahwa persatuan bisa melampaui garis-garis yang ditarik oleh kolonialisme.

Setelah Sumpah Pemuda: Pengabdian yang Berlanjut
Setelah Kongres Pemuda II, JIB tetap tidak bergabung dengan Indonesia Muda. Menurut Agus Salim, JIB menolak melebur karena kemunculan JIB pada 1925 sebenarnya merupakan jawaban dari kritik yang ia lontarkan kepada perkumpulan pemuda kedaerahan. JIB tetap berdiri sendiri, tetapi semangatnya terus hidup dalam pergerakan nasional.

Johan sendiri melanjutkan pengabdiannya pada bangsa dan negara. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada Kabinet Natsir dan Kabinet Wilopo. Ini adalah posisi yang sangat penting—sebuah posisi yang memungkinkannya untuk membentuk generasi muda Indonesia dengan semangat yang sama seperti yang ia bawa ke Kongres Pemuda II: semangat inklusivitas, persatuan, dan pengabdian.

Dalam perannya sebagai menteri, Johan membawa visi pendidikan yang inklusif—visi yang lahir dari pengalamannya sebagai seorang peranakan Tionghoa Muslim yang harus berjuang untuk menemukan tempatnya dalam pergerakan kebangsaan. Ia memahami bahwa pendidikan adalah alat pembebasan, bukan sekadar transfer pengetahuan. Dan ia memahami bahwa persatuan sejati hanya bisa dibangun jika setiap anak Indonesia—dari suku, agama, dan latar belakang apa pun—merasa diterima dan dihargai.

Epilog: Jembatan yang Tak Pernah Runtuh
Johan Mohammad Cai meninggal pada 8 Maret 1981 di Jakarta. Namanya mungkin tidak sepopuler Soegondo Djojopoespito atau Mohammad Yamin. Ia tidak menulis rumusan Sumpah Pemuda, tidak memimpin kongres, dan tidak melantunkan lagu Indonesia Raya. Namun, ia adalah bagian tak terpisahkan dari malam itu—malam ketika para pemuda dari berbagai organisasi berkumpul dan menyatakan bahwa mereka adalah satu.

Ia adalah jembatan yang menghubungkan dua dunia: dunia peranakan Tionghoa dan dunia pribumi; dunia Islam dan dunia kebangsaan; dunia "orang asing" dan dunia "putra-putri Indonesia". Dan jembatan itu, meskipun tidak selalu terlihat, menopang bangunan besar bernama Indonesia.

Dalam sebuah negeri yang hingga hari ini masih bergulat dengan persoalan identitas dan inklusi, kisah Johan Mohammad Cai adalah pengingat yang menyegarkan. Ia mengingatkan kita bahwa Sumpah Pemuda bukanlah milik satu kelompok, melainkan milik semua yang mengaku bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa Indonesia. Ia mengingatkan kita bahwa persatuan tidak berarti keseragaman, melainkan kesediaan untuk merangkul perbedaan.

Dan ia mengingatkan kita bahwa seorang peranakan Tionghoa Muslim pernah duduk di kepanitiaan yang melahirkan ikrar paling sakral dalam sejarah Indonesia—bukan sebagai tamu, bukan sebagai pengamat, tetapi sebagai pemimpin.

Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

Quote