Jakarta, Gesuri.id - Pendapatan tumbuh kuat, defisit masih terkendali. Namun harga minyak, subsidi energi, beban bunga utang dan kebutuhan pembiayaan mengingatkan kita bahwa ruang fiskal Indonesia tidaklah tanpa batas.
Ada sesuatu yang menarik dari membaca APBN Kita September 2026. Angka-angka headline memberikan alasan untuk optimistis. Sampai Agustus 2026, pendapatan negara telah mencapai Rp2.055,6 triliun atau tumbuh 25,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Belanja negara mencapai Rp2.295,7 triliun atau tumbuh 17,1 persen, sementara defisit berada pada Rp240,1 triliun atau hanya 0,93 persen terhadap PDB. Bahkan keseimbangan primer mencatat surplus Rp154 triliun.
Tetapi APBN tidak boleh dibaca hanya dari angka headline. Seorang analis fiskal harus melihat apa yang berada di balik angka tersebut, bagaimana angka itu terbentuk, seberapa berkelanjutan sumber penerimaannya, dan risiko apa yang mungkin muncul beberapa bulan ke depan. Karena itu, menurut saya, APBN Kita September 2026 memang menunjukkan ketahanan fiskal, tetapi sekaligus memperlihatkan beberapa alarm yang tidak boleh kita abaikan. APBN kita terlihat sehat, tetapi ruang fiskal kita sebenarnya semakin membutuhkan disiplin.
Pendapatan negara tumbuh kuat, tetapi kualitas pertumbuhannya harus terus diuji
Kinerja penerimaan negara patut diapresiasi. Penerimaan perpajakan sampai Agustus mencapai Rp1.619,3 triliun, sedangkan penerimaan pajak mencapai Rp1.409 triliun atau 59,8 persen dari target APBN, dengan pertumbuhan 24,1 persen. Pemerintah mengaitkan kinerja ini antara lain dengan membaiknya aktivitas ekonomi, penguatan administrasi perpajakan dan implementasi Coretax.
Ini tentu perkembangan yang positif.