Menolak Lupa Kudatuli: Refleksi 27 Juli 1996 dan Ujian Konsistensi Demokrasi Indonesia

Kudatuli menjadi akumulasi dari eskalasi gerakan rakyat yang mendukung Megawati dalam melawan hegemoni Orde Baru.
Sabtu, 18 Juli 2026 05:05 WIB Jurnalis - Kristin Tambunan

Jakarta, Gesuri.id Tanggal 27 Juli 1996 tetap tercatat sebagai salah satu lembaran paling kelam sekaligus menjadi titik balik penting dalam sejarah demokratisasi di Indonesia.

Peristiwa yang dikenal dengan nama Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli) atau Sabtu Kelabu ini, dinilai bukan sekadar konflik internal partai, melainkan momentum bertemunya takdir sejarah dan perlawanan rakyat terhadap kesewenang-wenangan rezim Orde Baru.

Tragedi ini bermula ketika kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, yang saat itu dijaga ketat oleh para pendukung Megawati Soekarnoputri, diserbu secara brutal.

Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung PDI kongres Medan pimpinan Soerjadi, yang disokong penuh oleh kekuatan aparat rezim penguasa.

Berdasarkan penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), peristiwa berdarah tersebut mengakibatkan sedikitnya 5 orang tewas, 149 orang luka-luka, dan 23 orang lainnya dinyatakan hilang.

Baca juga :