Jakarta, Gesuri.id – Generasi muda saat ini, khususnya yang termasuk dalam Generasi Z dan Generasi Alfa, dinilai banyak yang belum mengenal atau memahami esensi dari peristiwa sejarah "Kudatuli". Padahal, tragedi yang terjadi pada 27 Juli 1996 tersebut merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan demokrasi dan reformasi di Indonesia.
Politikus senior PDI Perjuangan Ribka Tjiptaning yang akrab disapa Mbak Ning menjelaskan bahwa Kudatuli merupakan akronim dari Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli. Kendati menggunakan istilah "kerusuhan", ia meluruskan bahwa pihak PDI Promega saat itu sama sekali tidak melakukan aksi anarkistis, melainkan hanya mempertahankan hak mereka.
"Sebetulnya tepatnya sih bukan kerusuhan ya, tapi itu sudah nama terkenalnya. Kita tidak rusuh kok. Orang kita ini PDI Promega waktu itu menjaga kantor kita sendiri lalu diserbu. Yang rusuh merekalah yang menyerbu," kata Mbak Ning kepada Moncong Putih di akun Instagram.
Baca: Ini 3 Faktor yang Membuat Ganjar Pranowo Menjadi Capres Terkuat!
Menurut Mbak Ning, akar konflik bermula dari ketidaksukaan Presiden Soeharto terhadap kepemimpinan Megawati Soekarnoputri di tubuh PDI. Rezim Orde Baru kemudian memberikan restu dan dukungan penuh kepada kubu Soerjadi untuk mendepak Megawati, meskipun arus bawah partai menghendaki sebaliknya.
"Arus bawah rakyat itu tahu internal partai di dalam kongres menang. Ibu Mega diteruskan di Sukolilo juga secara aklamasi Mbak Mega menang. Tapi, ya, Orde Baru begitulah, semua kan menggunakan alat kekuasaan," tuturnya.
Ia menambahkan, operasi perebutan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58 tersebut disinyalir kuat melibatkan kekuatan aparat keamanan, bukan sekadar Satgas PDI kubu Soerjadi. Mbak Ning bersaksi bahwa situasi di lapangan saat penyerbuan sangat mencekam.
"Kalau saya karena melihat sendiri di atas panser, ya, mereka pakai kaus kongres. Mereka mengacung-acungkan senjata dan mengambil spanduk yang judulnya, 'Hei penguasa jangan ganggu Megawati'. Jadi, waktu itu kami dipaksa berebut kantor yang sama-sama kita pertahankan," kenangnya.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Lebih lanjut, Mbak Ning memaparkan betapa timpangnya konstelasi politik kala itu. Kubu Megawati harus berhadapan dengan tembok besar kekuasaan rezim yang mengendalikan seluruh instrumen negara, mulai dari militer hingga birokrasi tingkat terendah.
"Di kubu Megawati itu hanya ada rakyat. Sementara yang punya uang ada di sana, tentara ada di sana, birokrasi ada di sana, dari mulai RT, RW, lurah, hingga camat semua ada di sana. Jadi, Ibu Mega itu murni didukung oleh kekuatan rakyat saja," jelas Mbak Ning.
Kekuatan rakyat itulah yang akhirnya menjadi gelombang besar yang mengubah arah sejarah bangsa. Tragedi "Sabtu Kelabu" 27 Juli 1996 pada akhirnya menyatukan kaum miskin kota, kader PDI Promega, dan kelompok mahasiswa pro-demokrasi untuk melahirkan gerakan reformasi menumbangkan rezim Orde Baru.

















































































