Jakarta, Gesuri.id Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Tenaga Kerja dan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia sekaligus Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Mercy Barends menegaskan peringatan 30 tahun Peristiwa Kudatuli menjadi momentum untuk mengingat kembali pengorbanan besar yang melahirkan era Reformasi sekaligus memastikan cita-cita demokrasi tetap dijaga.
Menurut Mercy, tragedi penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, pada 27 Juli 1996 bukan hanya menjadi sejarah bagi PDI Perjuangan, tetapi juga bagian penting dari perjalanan demokrasi Indonesia. Peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana kekerasan digunakan untuk membungkam perjuangan politik dan kebebasan berpendapat.
Hari ini kita memperingati 30 tahun Peristiwa Kudatuli. Sejak 1996 hingga hari ini, kita harus mengingat bagaimana pemberangusan demokrasi dimulai dari penghancuran sekretariat PDI dan berbagai tindakan kekerasan yang menyertainya, kata Mercy dalam Kulaih Umum Jalan Buntu Reformasi: Peringatan 30 tahun Kudatuli di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (18/7/2026) sore.
Mercy mengatakan Kudatuli menjadi salah satu mata rantai perjuangan rakyat yang kemudian bermuara pada lahirnya Reformasi 1998. Saat itu, berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, aktivis, jurnalis hingga masyarakat sipil, menyuarakan kritik terhadap pemerintahan Orde Baru yang dinilai represif.
Menurutnya, semangat perjuangan tersebut tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah semata. Seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab untuk menjaga hasil-hasil Reformasi yang telah dibayar dengan pengorbanan besar.