Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VI DPR RI, GM Totok Hedi Santosa, menegaskan peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli menjadi titik penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Hal itu disampaikannya dalam forum refleksi bertema Seni dan Demokrasi yang digelar menjelang 30 tahun Kudatuli di kawasan Murangan, Triharjo, Sleman, baru-baru ini, dengan menghadirkan seniman, budayawan, akademisi, dan politisi.
Kudatuli menjadi titik peretasan. Dari situ isu demokrasi menguat dan terus berkembang hingga sekarang, ujarnya, dikutip Minggu (12/7/2026)..
Menurut Totok, Kudatuli bukan hanya dipahami sebagai konflik politik semata, melainkan simbol dari kemacetan demokrasi pada masa Orde Baru yang kemudian memicu kesadaran kolektif untuk memperjuangkan perubahan. Dari peristiwa tersebut, semangat demokrasi terus tumbuh hingga akhirnya menjadi bagian penting dalam perjalanan reformasi Indonesia.
Ia menjelaskan, pemilihan tema seni dalam forum refleksi tersebut bukan tanpa alasan. Seni lahir dari realitas sosial dan memiliki kemampuan menyampaikan kritik secara lebih bebas dibandingkan saluran lainnya. Karena itu, keberadaan seniman dinilai memiliki posisi strategis dalam menjaga ruang demokrasi.
Seniman bisa tetap kritis meski berada di luar struktur kekuasaan. Itu yang membuat perannya penting dalam menjaga demokrasi, katanya.