Dari Dalat ke Rengasdengklok: Sebuah Rantai Peristiwa yang Tak Terhindarkan

Kalau dulu saya berkata, sebelum jagung berbuah Indonesia akan merdeka, sekarang saya dapat memastikan Indonesia akan merdeka sebelum jagung
Jum'at, 14 Agustus 2026 01:48 WIB Jurnalis - Ali Imron

Babak 1Janji di Dalat yang Menjadi Bumerang
12 Agustus 1945. Di sebuah kota perbukitan bernama Dalat, Vietnam Selatan, tiga tokoh bangsa Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat duduk berhadapan dengan Marsekal Hisaichi Terauchi, panglima tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara. Pertemuan ini adalah puncak dari perjalanan panjang yang dimulai sejak 9 Agustus, ketika ketiganya diterbangkan secara rahasia dari Jakarta menuju Saigon, kemudian ke Dalat.

Terauchi, yang saat itu sadar bahwa kekaisarannya sedang berada di ambang kehancuran bom atom telah meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki menyampaikan kabar yang selama ini dinanti: Pemerintah Jepang di Tokyo telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.Namun, kemerdekaan itu akan diberikan secara bertahap dan disarankan untuk diumumkan pada 24 Agustus 1945.

Ketika Soekarno bertanya kapan PPKI boleh mulai bekerja, Terauchi menjawab dengan kata-kata yang kelak menjadi legenda: Terserah kepada tuan-tuan.

Pada permukaan, ini adalah kemenangan diplomasi. Namun di balik kata-kata Terauchi itu tersimpan bom waktu yang akan meledak dalam hitungan hari. Janji kemerdekaan dari Jepang yang oleh Soekarno dan Hatta dianggap sebagai mandat sah untuk bertindak melalui PPKI justru akan menjadi pemicu utama konflik dengan golongan muda yang menolak keras kemerdekaan sebagai hadiah dari penjajah.

Pulang dengan Kabar yang Berbeda
14 Agustus 1945. Pesawat pembom tua yang mengangkut rombongan Soekarno-Hatta mendarat di Lapangan Terbang Kemayoran, Jakarta. Di hadapan ribuan orang yang menyambut, Soekarno berpidato dengan penuh keyakinan:

Baca juga :