H-1 di Kramat 106: Malam Ketika Segalanya Hampir Tidak Siap

Ki Hajar Dewantara, Direktur Taman Siswa, tidak bisa hadir ke Batavia karena kesibukannya mengurus Taman Siswa.
Senin, 19 Oktober 2026 02:14 WIB Jurnalis - Ali Imron

MALAM Minggu, 27 Oktober 1928, di Jalan Kramat Raya 106, Batavia. Rapat pertama Kongres Pemuda II baru saja selesai di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond. Para peserta beranjak pulang, tetapi tidak semua. Di Indonesische Clubgebouwrumah indekos yang menjadi markas PPPIbeberapa pemuda masih terjaga. Mereka bukan sedang berdiskusi tentang masa depan bangsa dengan semangat membara. Mereka sedang bekerja: menyusun agenda, memeriksa undangan, menghitung sisa uang, dan memikirkan apa yang harus dilakukan jika besok ada pembicara yang tidak datang.

Sebab, sehari sebelum ikrar dibacakan, persiapan Kongres Pemuda II tidak sepenuhnya mulus. Seorang sejarawan Belanda bahkan mencatat bahwa kongres itu slecht voorbereid en georganiseerd kurang persiapan dan kurang terorganisasi. Bahkan, penyusun P.P.O. menyebutnya een onbelangrijk jeugdcongressebuah kongres pemuda yang tidak penting. Catatan itu keras, tetapi ia membuka jendela pada kenyataan H-1: bahwa malam sebelum Sumpah Pemuda bukanlah malam yang tenang, melainkan malam penuh ketegangan, kekurangan, dan keputusan-keputusan kecil yang menentukan segalanya.

Pembicara yang Berhalangan, Agenda yang Harus Diselamatkan
Salah satu dinamika paling konkret di H-1 adalah absennya tokoh-tokoh yang diandalkan. Pada 27 Oktober 1928, panitia mengumumkan bahwa Ki Hajar Dewantara, Direktur Taman Siswa, tidak bisa hadir ke Batavia karena kesibukannya mengurus Taman Siswa. Kabar buruk tidak berhenti di situ: Mr. Soenario juga dikabarkan sakit sehingga dikhawatirkan tidak bisa menghadiri kongres.

Padahal, rapat keduayang dijadwalkan pagi 28 Oktober di Gedung Oost-Java Bioscoopdirancang untuk membahas pendidikan. Ki Hajar Dewantara adalah sosok sentral dalam tema itu. Tanpa dia, panitia harus mencari pengganti, atau setidaknya memastikan bahwa Poernomowoelan dan Sarmidi Mangunsarkorodua pembicara dari Taman Siswa yang tersisabisa mengisi kekosongan itu. Di sinilah Soegondo Djojopoespito bekerja bukan sebagai orator, melainkan sebagai manajer krisis: memastikan bahwa agenda tetap berjalan meskipun bintang utamanya tidak hadir.

Tiga Puluh Intelijen di Tengah Persiapan
Ketegangan H-1 tidak hanya datang dari kekurangan teknis. Ia datang dari pengawasan politik yang nyaris tak terlihat tetapi selalu terasa. Menurut penuturan staf Museum Sumpah Pemuda, dalam Kongres Pemuda II di antara para peserta ternyata juga disisipi sekira 30 anggota intelijen Pemerintah Hindia-Belanda . Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan Kongres Pemuda I, yang hanya melibatkan 510 intelijen.

Baca juga :