Ketika Ego Suku Melebur dalam Satu Ikrar

Nama "Tri Koro Dharmo" dan orientasinya yang Jawa-sentris membuat para pemuda dari Sunda dan Madura merasa tidak sepenuhnya diterima
Rabu, 14 Oktober 2026 01:28 WIB Jurnalis - Ali Imron

Bayangkan Jakarta di awal abad ke-20. Di gedung-gedung sekolah kedokteran seperti STOVIA, para pelajar dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul. Mereka membawa bahasa, adat, dan kesukuan masing-masing. Di satu sudut, pelajar dari Jawa berbicara tentang kejayaan Majapahit; di sudut lain, pelajar dari Sumatra membanggakan ranah Minang atau tanah Batak. Mereka semua adalah anak Hindia, tetapi belum merasa sebagai satu bangsa. Inilah titik nol dari sebuah perjalanan panjang menuju persatuan, sebuah perjalanan yang dimulai dari kesadaran kedaerahan, bukan melupakan identitas lokal, melainkan mengangkatnya menuju cakrawala yang lebih luas: Indonesia.

Jong Java: Benih Persatuan dari Tanah Jawa
Kisah ini dimulai pada 7 Maret 1915 di Gedung STOVIA, Batavia. Di sana, dr. Satiman Wirjosandjojo bersama kawan-kawannya mendirikan Tri Koro Dharmo (Tiga Tujuan Mulia). Organisasi ini lahir dari kesadaran bahwa Budi Utomoorganisasi kebangkitan nasional pertama yang berdiri pada 1908dianggap terlalu elitis dan terbatas pada kalangan priyayi. Tri Koro Dharmo hadir sebagai rumah bagi para pelajar yang ingin berlatih menjadi calon pemimpin bangsa. Tujuan awalnya adalah mempersatukan pelajar pribumi, menyuburkan minat pada kesenian dan bahasa, serta memajukan pengetahuan umum.

Namun, ada sebuah persoalan. Nama Tri Koro Dharmo dan orientasinya yang Jawa-sentris membuat para pemuda dari Sunda dan Madura merasa tidak sepenuhnya diterima. Maka, dalam kongres pertamanya di Solo pada 12 Juni 1918, organisasi ini berganti nama menjadi Jong Java. Perubahan nama ini bukan sekadar pergantian label, melainkan sebuah pesan: Jong Java ingin merangkul semua yang berbudaya Jawa, termasuk Sunda, Madura, dan Bali. Di balik perubahan ini, tokoh-tokoh seperti Wongsonegoro yang menjabat sebagai wakil ketua, serta Sutomo sebagai sekretaris, memainkan peran penting dalam meletakkan fondasi organisasi.

Jong Sumatranen Bond: Geliat Pemuda dari Tanah Seberang
Di sisi lain, para pelajar dari Sumatra yang merantau ke Batavia juga merasakan hal yang sama. Melihat Jong Java berdiri, mereka tergerak untuk mendirikan organisasi sendiri. Maka, pada 9 Desember 1917sebagian sumber menyebut 2 Desember 1917lahirlah Jong Sumatranen Bond (JSB) di Gedung STOVIA. Pendirinya adalah Teungku Mansyur sebagai ketua, dengan Mohammad Anas dan Amir sebagai sekretaris, serta Munir Nasution dan Kanun sebagai komisaris.

Tujuan JSB mulia: mempererat ikatan di antara pemuda-pemuda pelajar Sumatra, menanamkan kepedulian terhadap kebudayaan Sumatra, dan mempersiapkan mereka menjadi pemimpin serta pendidik bangsanya. Organisasi ini bukan tanpa tantangan. Kaum tua di Minangkabau sempat menentang pergerakan ini, khawatir akan menjadi ancaman bagi adat. Namun, semangat para pemuda tidak surut. Dalam setahun, anggota JSB melonjak dari 150 orang menjadi 500 orang, dengan cabang-cabang yang berdiri di Padang dan Bukittinggi.

Baca juga :