Ikuti Kami

Dari Budi Utomo ke Sumpah Pemuda: Jejak Perjuangan Dr. Soetomo dan Goenawan Mangoenkoesoemo

Salah satu titik awal penting dalam perjalanan tersebut adalah berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908.

Dari Budi Utomo ke Sumpah Pemuda: Jejak Perjuangan Dr. Soetomo dan Goenawan Mangoenkoesoemo
Tokoh Pergerakan Nasional dr. Mohammad Saleh bersama kawan-kawan Budi Utomo di halaman gedung STOVIA tahun 1908. (Dok Pribadi Moh Saleh).

Jakarta, Gesuri.id - Sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak lahir dalam satu malam. Jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, kesadaran untuk membangun bangsa telah tumbuh melalui pendidikan, pemikiran, organisasi, dan keberanian kaum muda menentang keterbelakangan akibat kolonialisme. Dari proses panjang itulah lahir gerakan kebangsaan yang kemudian mencapai salah satu tonggak pentingnya melalui Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Salah satu titik awal penting dalam perjalanan tersebut adalah berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Organisasi yang lahir dari lingkungan pelajar sekolah kedokteran STOVIA di Batavia itu menjadi tonggak kebangkitan pergerakan nasional modern. Di antara tokoh pelopornya, Dr. Soetomo dan Goenawan Mangoenkoesoemo memiliki peran penting dalam menumbuhkan kesadaran bahwa kemajuan bangsa harus diperjuangkan melalui pendidikan, pemikiran kritis, dan persatuan. Tanggal berdirinya Budi Utomo kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Pendidikan sebagai pintu kebangkitan bangsa

Pada awal abad ke-20, masyarakat bumiputra hidup dalam tatanan kolonial yang membatasi kesempatan dan akses terhadap pendidikan. Namun, berkembangnya pendidikan bagi sebagian masyarakat pribumi melahirkan kelompok terpelajar yang mulai mempertanyakan keadaan bangsanya. Mereka melihat bahwa keterbelakangan bukan sesuatu yang harus diterima sebagai takdir, melainkan persoalan yang dapat diubah melalui pengetahuan dan perjuangan bersama.

Dalam konteks itu, pendidikan menjadi salah satu jalan penting menuju kebangkitan nasional. Para pelajar tidak lagi memandang sekolah hanya sebagai sarana memperoleh pekerjaan atau memperbaiki kedudukan sosial. Pendidikan mulai dipahami sebagai alat untuk membangun kesadaran, meningkatkan martabat masyarakat, dan memperjuangkan masa depan bangsa.

Peran dr. Wahidin Soedirohoesodo turut memberi pengaruh besar terhadap tumbuhnya gagasan tersebut. Ia mengampanyekan pentingnya bantuan pendidikan bagi pelajar pribumi berprestasi yang mengalami keterbatasan biaya. Gagasan pembentukan dana pelajar atau studiefonds yang dibawanya menjadi salah satu inspirasi bagi para pelajar STOVIA, termasuk Soetomo, untuk memikirkan bentuk perjuangan yang lebih terorganisasi.

Dr. Soetomo dan keberanian mengorganisasi perubahan

Dr. Soetomo, yang lahir di Ngepeh, Nganjuk, pada 30 Juli 1888, merupakan salah satu tokoh sentral dalam kelahiran Budi Utomo. Ketika menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA, ia berinteraksi dengan sesama pelajar yang memiliki perhatian terhadap nasib masyarakat pribumi.

Pertemuan dan diskusi dengan dr. Wahidin memperluas pandangan Soetomo tentang arti pengabdian. Perjuangan tidak cukup dilakukan secara individual, tetapi perlu dibangun melalui organisasi yang mampu menghimpun gagasan, menyatukan tenaga, dan mendorong perubahan secara berkelanjutan.

Pada 20 Mei 1908, Soetomo bersama rekan-rekannya mendirikan Budi Utomo. Organisasi ini pada awalnya menitikberatkan perhatian pada pendidikan, kebudayaan, dan kemajuan masyarakat, khususnya kalangan terpelajar Jawa. Meski cakupan awalnya belum mewakili seluruh kelompok masyarakat di Nusantara, kelahirannya memperlihatkan perubahan penting: perjuangan mulai bergerak dari tindakan perseorangan menuju gerakan yang terorganisasi.

Inilah arti penting Soetomo dalam sejarah kebangsaan. Ia menjadi bagian dari generasi yang memahami bahwa perubahan membutuhkan wadah, kepemimpinan, dan tujuan bersama. Budi Utomo bukanlah satu-satunya organisasi yang memperjuangkan kemajuan bangsa, tetapi kelahirannya membuka ruang baru bagi tumbuhnya gerakan modern yang kemudian berkembang dalam beragam bentuk.

Perjalanan Soetomo selanjutnya juga menunjukkan bahwa pengabdian kepada bangsa tidak berhenti pada pendirian organisasi. Ia menjalani profesi sebagai dokter dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial serta pergerakan. Baginya, kemajuan masyarakat harus ditopang oleh peningkatan kualitas manusia dan keterlibatan aktif dalam menyelesaikan persoalan kehidupan.

Goenawan Mangoenkoesoemo: Ketajaman pemikiran dan kekuatan tulisan

Jika Soetomo dikenal melalui perannya dalam mengorganisasi gerakan, Goenawan Mangoenkoesoemo juga patut mendapat perhatian sebagai pelopor Budi Utomo yang menonjol dalam dunia pemikiran dan tulisan.

Goenawan berasal dari lingkungan keluarga terpelajar dan menempuh pendidikan di STOVIA. Sejak muda, ia telah menunjukkan perhatian terhadap persoalan sosial, adat-istiadat, serta ketimpangan hak antara masyarakat bumiputra dan orang Eropa. Melalui tulisan, ia menyampaikan kritik terhadap kebiasaan dan keadaan sosial yang dinilainya menghambat kemajuan masyarakat.

Tulisan menjadi ruang perjuangan yang penting pada masa ketika kebebasan politik masyarakat pribumi masih terbatas. Melalui pers, gagasan dapat disebarluaskan, ketidakadilan dapat dipersoalkan, dan masyarakat diajak untuk memikirkan kembali keadaan yang selama ini dianggap lumrah.

Peran Goenawan memperlihatkan bahwa perjuangan kebangsaan tidak hanya berlangsung melalui rapat, organisasi, atau aksi di ruang publik. Perjuangan juga tumbuh melalui keberanian mengemukakan pendapat, menguji tradisi yang tidak adil, serta membangun kesadaran melalui kata-kata.

Bersama Soetomo dan pelajar lainnya, Goenawan ikut membangun Budi Utomo. Ia juga tercatat sebagai bagian dari kepengurusan awal organisasi tersebut. Keterlibatannya menjadi bukti bahwa lahirnya gerakan kebangsaan merupakan hasil kerja bersama banyak tokoh dengan kemampuan dan kontribusi yang berbeda.

Dalam konteks sekarang, kiprah Goenawan mengingatkan bahwa perubahan sosial membutuhkan ruang dialog yang sehat, pers yang bertanggung jawab, dan keberanian intelektual untuk menyampaikan kritik. Gagasan yang disampaikan dengan argumentasi dapat menjadi bagian penting dari upaya memperbaiki kehidupan masyarakat.

Dari Budi Utomo menuju Sumpah Pemuda

Budi Utomo berdiri dua dekade sebelum Sumpah Pemuda diikrarkan. Karena itu, keduanya perlu dipahami sebagai bagian dari proses sejarah yang saling berhubungan, bukan sebagai satu peristiwa yang sama.

Setelah Budi Utomo lahir, berbagai organisasi lain berkembang dengan latar belakang wilayah, bahasa, budaya, agama, dan kepentingan yang beragam. Organisasi seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Ambon, dan Jong Islamieten Bond menjadi wadah bagi kaum muda untuk berorganisasi dan membangun kesadaran bersama.

Pada tahap awal, banyak organisasi tersebut masih berangkat dari identitas kedaerahan. Namun, seiring perkembangan zaman, muncul kesadaran bahwa perjuangan yang terpisah-pisah akan sulit menghadapi kekuasaan kolonial. Diperlukan persatuan yang melampaui batas daerah dan kelompok.

Kongres Pemuda I pada 1926 menjadi salah satu upaya penting untuk mempertemukan gagasan persatuan. Proses tersebut berlanjut hingga Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928 di Batavia. Para pemuda dari berbagai organisasi berkumpul untuk memperkuat cita-cita kebangsaan.

Pada 28 Oktober 1928, lahirlah ikrar yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Isinya menegaskan tiga hal mendasar: satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Pada momentum yang sama, Wage Rudolf Supratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya di hadapan peserta kongres, dalam bentuk instrumental.

Sumpah Pemuda menjadi tonggak penting karena menegaskan identitas Indonesia sebagai cita-cita bersama. Perbedaan asal daerah tidak lagi ditempatkan sebagai batas utama, melainkan sebagai bagian dari keragaman yang dapat disatukan dalam satu tujuan kebangsaan.

Persatuan tidak lahir dengan sendirinya

Perjalanan dari Budi Utomo menuju Sumpah Pemuda menunjukkan bahwa persatuan nasional bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Ia dibangun melalui proses panjang yang melibatkan pendidikan, pertukaran gagasan, organisasi, dan kesediaan untuk melampaui kepentingan kelompok.

Dr. Soetomo dan Goenawan Mangoenkoesoemo merupakan bagian dari generasi perintis yang membuka jalan bagi proses tersebut. Soetomo memperlihatkan pentingnya organisasi dan kerja kolektif, sedangkan Goenawan menunjukkan kekuatan pemikiran kritis serta tulisan dalam mendorong perubahan sosial.

Keduanya tidak bekerja sendirian. Pergerakan kebangsaan juga dibentuk oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo, para pelajar pendiri Budi Utomo lainnya, serta generasi berikutnya yang meneruskan gagasan persatuan dalam berbagai organisasi pemuda.

Karena itu, sejarah kebangkitan nasional perlu dibaca sebagai hasil perjuangan kolektif. Penghargaan kepada tokoh tertentu tidak seharusnya menghapus kontribusi tokoh lain, melainkan membantu kita memahami bagaimana berbagai peran saling melengkapi dalam membentuk perjalanan bangsa.

Menjaga semangat Sumpah Pemuda pada masa kini

Lebih dari satu abad setelah Budi Utomo berdiri dan hampir satu abad setelah Sumpah Pemuda diikrarkan, tantangan bangsa telah berubah. Indonesia tidak lagi berjuang melawan kolonialisme dalam bentuk yang sama seperti masa lalu. Namun, persoalan pendidikan, kesenjangan sosial, penyebaran informasi yang menyesatkan, intoleransi, dan perpecahan masih menuntut perhatian bersama.

Dalam situasi tersebut, semangat para pelopor kebangkitan nasional tetap relevan. Pendidikan perlu membuka kesempatan yang adil bagi seluruh masyarakat. Organisasi harus menjadi ruang untuk bekerja bagi kepentingan bersama. Kritik dan perbedaan pendapat perlu diperlakukan sebagai bagian dari kehidupan demokratis, bukan alasan untuk saling meniadakan.

Sumpah Pemuda juga mengingatkan bahwa identitas kebangsaan tidak mengharuskan masyarakat meninggalkan identitas daerahnya. Justru, keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila setiap kelompok bersedia mengakui kedudukan yang setara dan bekerja menuju tujuan bersama.

Warisan Dr. Soetomo dan Goenawan Mangoenkoesoemo bukan semata-mata nama yang tercatat dalam buku sejarah. Warisan mereka terletak pada keberanian memulai perubahan, kesediaan mengorganisasi gagasan, dan keyakinan bahwa masa depan bangsa dapat diperbaiki melalui pendidikan serta kerja kolektif.

Dari Budi Utomo hingga Sumpah Pemuda, kita belajar bahwa bangsa yang besar tidak dibangun hanya oleh satu tokoh atau satu generasi. Ia tumbuh melalui kesinambungan pemikiran dan perjuangan. Tugas generasi sekarang adalah meneruskan semangat itu dengan menghadirkan persatuan yang nyata, keadilan sosial, dan kesempatan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia.

Quote