Bayangkan Jakarta di awal abad ke-20. Di gedung-gedung sekolah kedokteran seperti STOVIA, para pelajar dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul. Mereka membawa bahasa, adat, dan kesukuan masing-masing. Di satu sudut, pelajar dari Jawa berbicara tentang kejayaan Majapahit; di sudut lain, pelajar dari Sumatra membanggakan ranah Minang atau tanah Batak. Mereka semua adalah "anak Hindia," tetapi belum merasa sebagai satu bangsa. Inilah titik nol dari sebuah perjalanan panjang menuju persatuan, sebuah perjalanan yang dimulai dari kesadaran kedaerahan, bukan melupakan identitas lokal, melainkan mengangkatnya menuju cakrawala yang lebih luas: Indonesia.
Jong Java: Benih Persatuan dari Tanah Jawa
Kisah ini dimulai pada 7 Maret 1915 di Gedung STOVIA, Batavia. Di sana, dr. Satiman Wirjosandjojo bersama kawan-kawannya mendirikan Tri Koro Dharmo (Tiga Tujuan Mulia). Organisasi ini lahir dari kesadaran bahwa Budi Utomo—organisasi kebangkitan nasional pertama yang berdiri pada 1908—dianggap terlalu elitis dan terbatas pada kalangan priyayi. Tri Koro Dharmo hadir sebagai rumah bagi para pelajar yang ingin berlatih menjadi calon pemimpin bangsa. Tujuan awalnya adalah mempersatukan pelajar pribumi, menyuburkan minat pada kesenian dan bahasa, serta memajukan pengetahuan umum.
Namun, ada sebuah persoalan. Nama "Tri Koro Dharmo" dan orientasinya yang Jawa-sentris membuat para pemuda dari Sunda dan Madura merasa tidak sepenuhnya diterima. Maka, dalam kongres pertamanya di Solo pada 12 Juni 1918, organisasi ini berganti nama menjadi Jong Java. Perubahan nama ini bukan sekadar pergantian label, melainkan sebuah pesan: Jong Java ingin merangkul semua yang berbudaya Jawa, termasuk Sunda, Madura, dan Bali. Di balik perubahan ini, tokoh-tokoh seperti Wongsonegoro yang menjabat sebagai wakil ketua, serta Sutomo sebagai sekretaris, memainkan peran penting dalam meletakkan fondasi organisasi.
Jong Sumatranen Bond: Geliat Pemuda dari Tanah Seberang
Di sisi lain, para pelajar dari Sumatra yang merantau ke Batavia juga merasakan hal yang sama. Melihat Jong Java berdiri, mereka tergerak untuk mendirikan organisasi sendiri. Maka, pada 9 Desember 1917—sebagian sumber menyebut 2 Desember 1917—lahirlah Jong Sumatranen Bond (JSB) di Gedung STOVIA. Pendirinya adalah Teungku Mansyur sebagai ketua, dengan Mohammad Anas dan Amir sebagai sekretaris, serta Munir Nasution dan Kanun sebagai komisaris.
Tujuan JSB mulia: mempererat ikatan di antara pemuda-pemuda pelajar Sumatra, menanamkan kepedulian terhadap kebudayaan Sumatra, dan mempersiapkan mereka menjadi pemimpin serta pendidik bangsanya. Organisasi ini bukan tanpa tantangan. Kaum tua di Minangkabau sempat menentang pergerakan ini, khawatir akan menjadi ancaman bagi adat. Namun, semangat para pemuda tidak surut. Dalam setahun, anggota JSB melonjak dari 150 orang menjadi 500 orang, dengan cabang-cabang yang berdiri di Padang dan Bukittinggi.
Di dalam JSB inilah lahir tokoh-tokoh besar. Mohammad Hatta muda, yang kelak menjadi wakil presiden pertama Republik Indonesia, memulai karier organisasinya sebagai bendahara JSB cabang Padang pada tahun 1916 hingga 1919. Sementara itu, Bahder Djohan—yang kemudian dikenal sebagai tokoh pendidikan dan pemrakarsa Palang Merah Indonesia—juga aktif sebagai sekretaris JSB cabang Padang, dan terus berkontribusi hingga di Jakarta.
Mohammad Yamin: Suara Persatuan dari Tanah Sumatra
Di antara nama-nama itu, satu tokoh bersinar paling terang dalam konteks persatuan: Mohammad Yamin. Lahir pada 23 Agustus 1903 di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, Yamin adalah seorang sastrawan, ahli hukum, sekaligus pemikir muda yang berani. Pada usia 16 tahun (1919), ia sudah menjadi anggota Jong Sumatranen Bond. Sejak aktif memimpin JSB, ia kerap mengemukakan gagasan tentang persatuan Indonesia, sebuah gagasan yang melampaui batas-batas kesukuan.
Bagi Yamin, bahasa adalah alat pemersatu yang paling ampuh. Ia meyakini bahwa bahasa Melayu—yang telah menjadi lingua franca di Nusantara selama berabad-abad—layak dijadikan bahasa persatuan karena mudah dipahami dan telah menjadi jembatan komunikasi antarsuku. Gagasan ini bukanlah sekadar wacana. Ketika Kongres Pemuda II berlangsung pada 27–28 Oktober 1928, Yamin tidak hanya hadir sebagai peserta. Ia adalah penggagas ide persatuan yang visioner dan sekretaris kongres. Di tengah kongres, ia menuliskan sebuah rumusan dalam secarik kertas—rumusan yang kemudian menjadi butir ketiga Sumpah Pemuda: "Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia".
Jong-Jong Lain: Mozaik Kedaerahan yang Bersatu
Jong Java dan Jong Sumatranen Bond bukanlah satu-satunya organisasi kedaerahan. Di berbagai sudut Batavia, organisasi-organisasi lain juga tumbuh subur, masing-masing dengan tokoh-tokohnya sendiri.
Jong Bataks Bond didirikan oleh para pemuda dari Tapanuli yang belajar di Batavia. Di antara pendirinya adalah Sanusi Pane dan Amir Sjarifuddin Harahap. Nama-nama seperti Ferdinand Lumban Tobing, Todung Sutan Gunung Mulia Harahap, dan Adam Malik Batubara—yang kelak menjadi wakil presiden Indonesia—juga tercatat sebagai tokoh organisasi ini.
Jong Minahasa berdiri pada tahun 1918, didirikan oleh JH Pangemanan. Organisasi ini bertujuan mempererat persatuan pemuda Minahasa serta memajukan kebudayaan daerah. Tokoh-tokohnya antara lain G.R. Pantouw, T.A. Kandou, J.S. Warouw, L. Palar, dan R.C.L. Senduk. Salah satu tokoh yang paling dikenal adalah Sam Ratulangi, yang kelak menjadi pahlawan nasional.
Jong Ambon didirikan pada tahun 1917 oleh L. Tamaela dan J. Kayadu. Organisasi ini menghimpun pelajar dan pemuda asal Maluku yang berada di Jawa. Salah satu tokoh terkenalnya adalah Johannes Leimena, yang kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah Indonesia.
Jong Celebes menghimpun pemuda-pemuda dari Sulawesi. Tokoh-tokohnya antara lain Rumondor Cornelis Lefrand Senduk (yang juga aktif di Jong Minahasa), Arnold Mononutu, dan Agustine Magdalena Waworuntu. Senduk bahkan berperan sebagai pembantu dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II.
Meleburkan Ego: Jalan Menuju Sumpah Pemuda
Perjalanan menuju persatuan tidaklah mulus. Pada tahun 1921, Jong Java dan Jong Sumatranen Bond sudah mencoba membentuk konfederasi, tetapi gagal karena tidak ada kesepakatan mengenai jumlah wakil. Baru pada 15 Agustus 1926, atas inisiatif Jong Java, diadakan pertemuan yang dihadiri oleh berbagai organisasi pemuda. Pertemuan ini menyepakati pembentukan panitia untuk mempersiapkan Kongres Pemuda I.
Kongres Pemuda I digelar pada 30 April–2 Mei 1926. Dalam kongres ini, Bahder Djohan dari JSB menyampaikan pidato berjudul "Di Tangan Wanita," yang membahas kedudukan perempuan dalam pergerakan. Kongres ini menghasilkan kesepakatan tentang cita-cita persatuan Indonesia dan perlunya bahasa persatuan, meskipun rumusannya masih samar-samar.
Puncaknya adalah Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928. Kongres ini digagas oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi yang beranggotakan pelajar dari seluruh Indonesia. Dalam kongres inilah, Mohammad Yamin duduk sebagai sekretaris, dan Soegondo Djojopoespito dari PPPI memainkan peran sentral dalam menyatukan organisasi-organisasi kepemudaan yang terpecah berdasarkan kedaerahan.
Pada malam penutup, 28 Oktober 1928, di Gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, para pemuda dari berbagai organisasi kedaerahan itu membacakan ikrar yang mengguncang sejarah. Mereka menyatakan:
Pertama, kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kedua, kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga, kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Ikrar ini bukan sekadar kata-kata. Ia adalah deklarasi bahwa ego kesukuan—yang selama ini menjadi identitas utama—telah dilampaui oleh kesadaran baru: Indonesia. Setelah kongres, JSB menempatkan Yamin sebagai sekretaris kongres, dan ia aktif mengikuti rapat-rapat komisi persiapan pembentukan Indonesia Muda sebagai wadah tunggal bagi organisasi-organisasi kedaerahan.
Epilog: Warisan yang Tak Pernah Padam
Kisah organisasi-organisasi pemuda kedaerahan ini adalah kisah tentang keberanian untuk bermimpi besar. Mereka tidak menolak identitas lokal mereka—sebaliknya, mereka merayakannya. Tetapi mereka juga menyadari bahwa identitas lokal tidak akan pernah cukup untuk menghadapi kolonialisme yang mengancam semua. Ego suku yang melebur bukan berarti hilang; ia bertransformasi menjadi kekuatan yang lebih besar.
Dari Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Celebes, dan masih banyak lainnya, lahir tokoh-tokoh yang kelak memimpin Indonesia: Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, Sam Ratulangi, Johannes Leimena, Adam Malik, dan banyak lagi. Mereka adalah bukti hidup bahwa persatuan bukanlah keseragaman, melainkan harmoni dalam keberagaman.

















































































