Ketika Kolonial Menertawakan Sumpah Pemuda

Van der Plas menulis bahwa ketua kongres, Soegondo Djojopoespito, “sama sekali tidak mampu menjalankan tugasnya dan tidak memiliki wibawa
Senin, 19 Oktober 2026 02:26 WIB Jurnalis - Ali Imron

LAPORAN rahasia itu sampai di meja Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Andries Cornelis Dirk de Graeff, pada awal November 1928. Laporannya ditulis oleh Charles Olke van der Plas, seorang penasihat urusan pribumi (Adviseur voor Inlandsche Zaken) yang hadir langsung di Kongres Pemuda II. Nada laporan itu bukan nada kekhawatiran. Ia adalah nada meremehkan. Van der Plas menulis bahwa ketua kongres, Soegondo Djojopoespito, sama sekali tidak mampu menjalankan tugasnya dan tidak memiliki wibawa ; bahwa Soegondo mencoba berbicara dalam bahasa Indonesia, namun ternyata hanya bisa mengungkapkan diri secara sangat terbata-bata .

Bagi Van der Plas, kongres itu tidak praktis dan tidaklah penting benar dalam pergerakan pemuda umumnya . Ia bahkan menertawakan keputusan kongres untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan . Di mata pejabat kolonial itu, para pemuda itu hanyalah anak-anak sekolah yang gagapbukan ancaman.

Namun, sejarah memiliki ironi yang kejam. Kegagapan yang dicatat Van der Plas justru adalah bukti bahwa sesuatu yang baru sedang lahir: sebuah bahasa yang belum dikuasai oleh para penuturnya, tetapi telah dipilih dengan sadar sebagai alat persatuan. Van der Plas mengira ia sedang menyaksikan kegagalan; yang sebenarnya ia saksikan adalah kelahiran.

Visbeen dan PID: Pengawasan yang Tidak Memahami Apa yang Dilihatnya
Pengawasan kongres tidak hanya dilakukan oleh Van der Plas. Di lapangan, Kepala Dinas Rahasia Kepolisian Hindia Belanda (PID), Visbeen, memimpin langsung pengawasan terhadap jalannya kongres . Menurut kesaksian Mohammad Tabrani, ketika kongres akan dimulai, Visbeen menyatakan bahwa ia dan anak buahnya akan kerepotan dalam membuat laporan apabila Tabrani berbuat macam-macam . Ini adalah pengakuan yang jujur tentang keterbatasan intelijen kolonial: mereka tidak benar-benar memahami apa yang sedang mereka awasi.

R. Soeharto, seorang pemuda yang tinggal di Indonesische Clubgebouw dan menyaksikan langsung jalannya kongres, memberikan kesaksian yang paling tajam tentang PID. Ia mengenang bahwa petugas-petugas PID yang juga hadir dan biasanya sangat mengganggu rapat-rapat pemuda dengan tegoran-tegorannya, tampak diam ketika W.R. Supratman memperdengarkan Indonesia Raya dengan biola. Soeharto menambahkan: Mungkin karena tidak dapat menangkap dengan cepat maknanya, mungkin juga karena ikut terharu .

Baca juga :