Ikuti Kami

Ketika Kolonial Menertawakan Sumpah Pemuda

Van der Plas menulis bahwa ketua kongres, Soegondo Djojopoespito, “sama sekali tidak mampu menjalankan tugasnya dan tidak memiliki wibawa

Ketika Kolonial Menertawakan Sumpah Pemuda
an der Plas menulis bahwa ketua kongres, Soegondo Djojopoespito, “sama sekali tidak mampu menjalankan tugasnya dan tidak memiliki wibawa”

LAPORAN rahasia itu sampai di meja Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Andries Cornelis Dirk de Graeff, pada awal November 1928. Laporannya ditulis oleh Charles Olke van der Plas, seorang penasihat urusan pribumi (Adviseur voor Inlandsche Zaken) yang hadir langsung di Kongres Pemuda II. Nada laporan itu bukan nada kekhawatiran. Ia adalah nada meremehkan. Van der Plas menulis bahwa ketua kongres, Soegondo Djojopoespito, “sama sekali tidak mampu menjalankan tugasnya dan tidak memiliki wibawa” ; bahwa Soegondo “mencoba berbicara dalam ‘bahasa Indonesia’, namun ternyata hanya bisa mengungkapkan diri secara sangat terbata-bata” .

Bagi Van der Plas, kongres itu “tidak ‘praktis’” dan “tidaklah penting benar dalam pergerakan pemuda umumnya” . Ia bahkan “menertawakan keputusan kongres untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan” . Di mata pejabat kolonial itu, para pemuda itu hanyalah anak-anak sekolah yang gagap—bukan ancaman.

Namun, sejarah memiliki ironi yang kejam. Kegagapan yang dicatat Van der Plas justru adalah bukti bahwa sesuatu yang baru sedang lahir: sebuah bahasa yang belum dikuasai oleh para penuturnya, tetapi telah dipilih dengan sadar sebagai alat persatuan. Van der Plas mengira ia sedang menyaksikan kegagalan; yang sebenarnya ia saksikan adalah kelahiran.

Visbeen dan PID: Pengawasan yang Tidak Memahami Apa yang Dilihatnya
Pengawasan kongres tidak hanya dilakukan oleh Van der Plas. Di lapangan, Kepala Dinas Rahasia Kepolisian Hindia Belanda (PID), Visbeen, memimpin langsung pengawasan terhadap jalannya kongres . Menurut kesaksian Mohammad Tabrani, ketika kongres akan dimulai, Visbeen menyatakan bahwa ia dan anak buahnya akan “kerepotan dalam membuat laporan” apabila Tabrani “berbuat ‘macam-macam’” . Ini adalah pengakuan yang jujur tentang keterbatasan intelijen kolonial: mereka tidak benar-benar memahami apa yang sedang mereka awasi.

R. Soeharto, seorang pemuda yang tinggal di Indonesische Clubgebouw dan menyaksikan langsung jalannya kongres, memberikan kesaksian yang paling tajam tentang PID. Ia mengenang bahwa “petugas-petugas PID yang juga hadir dan biasanya sangat mengganggu rapat-rapat pemuda dengan tegoran-tegorannya, tampak diam” ketika W.R. Supratman memperdengarkan “Indonesia Raya” dengan biola. Soeharto menambahkan: “Mungkin karena tidak dapat menangkap dengan cepat maknanya, mungkin juga karena ikut terharu” .

Inilah inti dari kesan pejabat Belanda terhadap Sumpah Pemuda: mereka melihat, tetapi tidak memahami. Mereka mencatat, tetapi tidak mengerti apa yang mereka catat. Mereka mengawasi, tetapi tidak mampu menangkap makna dari apa yang mereka awasi. PID hadir di setiap rapat, menegur setiap kata “merdeka” yang terucap , tetapi mereka gagal melihat bahwa yang sedang terjadi bukanlah sekadar rapat biasa, melainkan sebuah bangsa yang sedang mendeklarasikan dirinya sendiri.

“Tidak Praktis”: Kritik yang Justru Membuktikan Kebesaran
Kritik Van der Plas bahwa putusan kongres “tidak ‘praktis’”  adalah kritik yang, jika dibaca dari sudut pandang kolonial, masuk akal. Baginya, sebuah resolusi baru bermakna jika “telah selesai” dan “didukung oleh organisasi-organisasi lain” . Van der Plas memperkirakan bahwa “kongres Jong Java yang akan diadakan bakal lebih menentukan” . Ia mengukur keberhasilan dengan parameter organisatoris: berapa organisasi yang bergabung, berapa anggota yang terdaftar, berapa dana yang terkumpul.

Tetapi Sumpah Pemuda tidak bekerja dengan parameter itu. Ia bekerja dengan parameter simbolik dan ideologis. Kata-kata “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa” tidak memerlukan dukungan organisasi untuk menjadi benar. Ia benar karena diikrarkan, dan diikrarkan karena ia benar. Van der Plas, sebagai seorang administrator kolonial, tidak memiliki kosakata untuk memahami kekuatan performatif dari sebuah ikrar. Ia mencari struktur; yang ia temukan hanyalah teks. Dan karena ia hanya melihat teks, ia menyimpulkan bahwa tidak ada apa-apa.

Lagu yang Diremehkan, Bahaya yang Tidak Dilihat
Salah satu momen paling ironis dalam kesan pejabat Belanda adalah reaksi terhadap “Indonesia Raya”. Ketika W.R. Supratman menyerahkan naskah lagu itu kepada Soegondo, Soegondo menyerahkannya kepada Van der Plas untuk meminta pendapat . Van der Plas “malah menyarankan supaya meminta izin kepada perwira polisi Belanda” . Ia tidak melihat lagu itu sebagai ancaman. Ia melihatnya sebagai masalah perizinan.

Van der Plas kemudian menulis laporan tertanggal 3 November 1928 yang menyatakan bahwa ia “tidak terlalu terpukau” terhadap lagu itu . Namun, tiga bulan kemudian, pada 18 Januari 1929, ia menulis laporan tertulis kepada Gubernur Jenderal De Graeff—dan kali ini nada laporannya berbeda . Ia mulai melihat bahwa lagu itu “berbahaya”. Ironinya jelas: pejabat kolonial yang sama yang menertawakan kongres pada November 1928, pada Januari 1929 sudah mengakui bahwa lagu itu mengancam. Waktu telah mengajarinya apa yang tidak ia lihat di Kramat 106.

Epilog: Kegagapan yang Menjadi Kekuatan
Pada akhirnya, kesan pejabat Belanda terhadap Sumpah Pemuda adalah kesan yang salah. Mereka melihat kegagapan dan menyimpulkan kelemahan. Mereka melihat ketiadaan struktur dan menyimpulkan ketiadaan makna. Mereka melihat anak-anak sekolah dan menyimpulkan bukan ancaman.

Namun, kegagapan Soegondo dalam berbahasa Indonesia adalah bukti bahwa bahasa itu baru. Ketiadaan struktur adalah bukti bahwa persatuan itu baru. Dan anak-anak sekolah itu adalah orang-orang yang akan menggantikan para pejabat kolonial itu. Van der Plas dan Visbeen menertawakan apa yang tidak mereka pahami, dan dalam prosesnya, mereka membiarkan apa yang seharusnya mereka hentikan.

Sumpah Pemuda tidak lahir karena pejabat Belanda meremehkannya. Ia lahir meskipun mereka meremehkannya. Tetapi kesan mereka yang keliru adalah bagian dari sejarah itu sendiri: bukti bahwa kolonialisme tidak hanya kejam, tetapi juga buta.

Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

Quote