Menolak Lupa di Diponegoro 58: Kudatuli dan Manifesto Kesetiaan Megawati pada Arus Bawah

27 Juli bukan sekadar lembaran kalender yang usang. Ia adalah sebuah altar ideologis.
Jum'at, 17 Juli 2026 03:39 WIB Jurnalis - Ali Imron

Pagi masih ranum ketika pelataran Kantor DPP PDI Perjuangan di Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat, tenggelam dalam keheningan yang pekat. Kelopak-kelopak bunga mawar dan melati berjatuhan di atas aspal area parkir, menyebarkan aroma wangi yang getir di tengah kepungan udara ibu kota.

Melalui pengeras suara, lagu Gugur Bunga ciptaan Ismail Marzuki mengalun lembut, menyelinap di antara isak tangis yang runtuh secara lirih dari sudut-sudut halaman. Di sana, di tengah barisan kader seperti Bonnie Triyana, Wiryanti Sukamdani, dan Deddy Yevri Sitorus, berdiri pula para penyintas dan keluarga korban. Mereka merawat ritual tahunan: menolak lupa pada Sabtu Kelabu, 27 Juli 1996sebuah tragedi berdarah yang karib dikenal sebagai Kudatuli (Kerusuhan Dua Tujuh Juli).

Kader itu harus tidak boleh lupa dengan Kudatuli. Tonggak terjadinya reformasi itu dimulai dari sini, teriak Ribka Tjiptaning, politikus senior PDI Perjuangan, suaranya parau namun memotong udara pagi dengan tajam.

Bagi mereka yang berkumpul, 27 Juli bukan sekadar lembaran kalender yang usang. Ia adalah sebuah altar ideologis. Di tempat inilah, hampir tiga dekade silam, derap sepatu lars, pecahan batu, gas air mata, dan jerit ketakutan berbaur menjadi satu dalam operasi brutal perampasan kedaulatan parpol oleh rezim Orde Baru.

Telepon yang Terputus dari Kebagusan

Untuk memahami kedalaman luka Kudatuli, sejarah harus ditarik mundur ke sebuah rumah di Kebagusan, Jakarta Selatan, beberapa jam sebelum pagar Diponegoro 58 dijebol paksa. Di rumah itu, Megawati Soekarnoputriyang terpilih menjadi Ketua Umum PDI sejak KLB Surabaya 1993 namun terus-menerus digoyang oleh faksi Soerjadi bentukan pemerintahduduk dalam kegelisahan yang merayap.

Baca juga :