Tiba di Jakarta & Pidato "Jagung Berbuah"

14 Agustus 1945, Saat Harapan dan Ketidakpercayaan Beradu di Kemayoran
Jum'at, 14 Agustus 2026 01:44 WIB Jurnalis - Ali Imron

14 Agustus 1945. Pagi itu, pesawat pembom tua yang mengangkut Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat, setelah perjalanan panjang dari Dalat, Vietnam, melalui Saigon dan Singapura, akhirnya mendarat di Lapangan Terbang Kemayoran, Jakarta.

Di landasan, ribuan orang telah menunggu. Anak-anak sekolah, pedagang, pegawai negeri, dan orang-orang yang dikerahkan oleh Hookookai dan Gunseikanbu, organisasi-organisasi bentukan Jepang, berdiri berdesakan menyambut kepulangan tiga utusan bangsa. Namun di antara kerumunan yang tampak patuh itu, ada sekelompok pemuda yang datang bukan sekadar untuk menyambut. Mereka datang dengan tuntutan.

Chairul Saleh dan kawan-kawannya, AM Hanafi, Asmara Hadi, Sudiro, SK Trimurti, dan Sayuti Melik, menunggu di sebuah kebun pisang tak jauh dari landasan. Mereka telah mengetahui kabar yang belum diketahui oleh Soekarno-Hatta: Jepang telah menyerah kepada Sekutu.

Kabar itu telah menyebar melalui jaringan bawah tanah. Adam Malik, yang bekerja di Kantor Berita DOME, telah mendapat informasi lebih awal. Mochtar Lubis, yang bekerja di bagian monitoring Radio Hoso Kyoku, adalah satu-satunya orang Indonesia yang diizinkan mendengarkan siaran radio asing di tempatnya bekerja, dan dari sanalah ia menangkap berita kekalahan Jepang. M. Jusuf Ronodipuro, seorang reporter di radio yang sama, kemudian diperintahkan atasannya untuk meliput kedatangan Soekarno-Hatta di Kemayoran. Sebelum ke bandara, ia singgah di Menteng Raya 31, markas para pemuda revolusioner, dan membocorkan kabar itu. Ternyata para pemuda sudah lebih dulu mengetahuinya.

Para pemuda tahu bahwa kekosongan kekuasaan (vacuum of power) telah terjadi. Mereka tahu bahwa setiap jam yang terbuang adalah kesempatan yang hilang. Dan mereka tahu bahwa kemerdekaan tidak boleh datang sebagai hadiah dari Jepang.

Baca juga :