14 Agustus 1945. Pagi itu, pesawat pembom tua yang mengangkut Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat, setelah perjalanan panjang dari Dalat, Vietnam, melalui Saigon dan Singapura, akhirnya mendarat di Lapangan Terbang Kemayoran, Jakarta.
Di landasan, ribuan orang telah menunggu. Anak-anak sekolah, pedagang, pegawai negeri, dan orang-orang yang dikerahkan oleh Hookookai dan Gunseikanbu, organisasi-organisasi bentukan Jepang, berdiri berdesakan menyambut kepulangan tiga utusan bangsa. Namun di antara kerumunan yang tampak patuh itu, ada sekelompok pemuda yang datang bukan sekadar untuk menyambut. Mereka datang dengan tuntutan.
Chairul Saleh dan kawan-kawannya, AM Hanafi, Asmara Hadi, Sudiro, SK Trimurti, dan Sayuti Melik, menunggu di sebuah kebun pisang tak jauh dari landasan. Mereka telah mengetahui kabar yang belum diketahui oleh Soekarno-Hatta: Jepang telah menyerah kepada Sekutu.
Kabar itu telah menyebar melalui jaringan bawah tanah. Adam Malik, yang bekerja di Kantor Berita DOME, telah mendapat informasi lebih awal. Mochtar Lubis, yang bekerja di bagian monitoring Radio Hoso Kyoku, adalah satu-satunya orang Indonesia yang diizinkan mendengarkan siaran radio asing di tempatnya bekerja, dan dari sanalah ia menangkap berita kekalahan Jepang. M. Jusuf Ronodipuro, seorang reporter di radio yang sama, kemudian diperintahkan atasannya untuk meliput kedatangan Soekarno-Hatta di Kemayoran. Sebelum ke bandara, ia singgah di Menteng Raya 31, markas para pemuda revolusioner, dan membocorkan kabar itu. Ternyata para pemuda sudah lebih dulu mengetahuinya.
Para pemuda tahu bahwa kekosongan kekuasaan (vacuum of power) telah terjadi. Mereka tahu bahwa setiap jam yang terbuang adalah kesempatan yang hilang. Dan mereka tahu bahwa kemerdekaan tidak boleh datang sebagai "hadiah" dari Jepang.
Pidato yang Mengguncang "Jagung Berbunga"
Begitu turun dari pesawat, di tengah sorak-sorai massa yang menyambut, Soekarno berdiri di hadapan ribuan orang dan menyampaikan pidato singkatnya. Kata-katanya kelak dikenang sebagai salah satu pidato terpenting dalam sejarah perjuangan Indonesia:
"Kalau dulu saya berkata, sebelum jagung berbuah Indonesia akan merdeka, sekarang saya dapat memastikan Indonesia akan merdeka sebelum jagung berbunga."
Dalam autobiografinya, Mohammad Hatta menuliskan kembali pidato tersebut: "Apabila dulu aku katakan bahwa Indonesia akan merdeka sesudah jagung berbuah, sekarang dapat dikatakan Indonesia akan merdeka sebelum jagung berbunga".
Dalam biografi Soekarno yang disusun Cindy Adams, janji itu bahkan lebih tegas: "Tidak lagi kukatakan bahwa kita akan merdeka bila jagung sudah matang. Tetapi kukatakan kita merdeka sekarang, sekarang ini juga, karena jagung sudah berbunga".
Mengapa metafora jagung?
Sejarawan Rushdy Hoesein menjelaskan bahwa kalimat ini sangat strategis. Sebelumnya, banyak rakyat Indonesia menanam jagung karena mendengar propaganda bahwa Jepang hanya akan berkuasa "seumur jagung" , sebuah kiasan bahwa masa penjajahan tidak akan lama. Soekarno mengambil metafora yang sudah tertanam di benak rakyat dan membaliknya menjadi senjata.
Dengan mengatakan "sebelum jagung berbunga", lebih cepat dari "sebelum jagung berbuah", Soekarno memberi sinyal bahwa kemerdekaan akan tiba lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Ini adalah janji yang tidak terikat pada kalender Jepang, tidak menyebut pihak Jepang sama sekali, dan sepenuhnya menggunakan bahasa alam Indonesia.
Pidato singkat di Kemayoran itu kemudian ditulis oleh M. Jusuf Ronodipuro, yang kelak menjadi Kepala Stasiun RRI pertama.
Di Balik Pidato, Ketika Dunia Sedang Berubah
Apa yang tidak diketahui oleh Soekarno, Hatta, dan sebagian besar rakyat Indonesia pada saat pidato itu disampaikan adalah: di belahan bumi lain, sejarah sedang bergerak lebih cepat dari kata-kata.
Pada hari yang sama, 14 Agustus 1945, di Tokyo, Kaisar Hirohito secara resmi mengumumkan bahwa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Bom atom di Hiroshima (6 Agustus) dan Nagasaki (9 Agustus) telah menghancurkan tulang punggung militer Kekaisaran Jepang. Uni Soviet menyatakan perang dan menyerbu Manchuria. Kekaisaran Matahari Terbit, yang hanya tiga tahun sebelumnya menyapu Asia Tenggara dengan kemenangan gemilang, kini tumbang.
Namun berita penyerahan Jepang itu sengaja ditutup-tutupi di Indonesia oleh otoritas militer Jepang yang masih berkuasa secara de facto. Mereka ingin menghindari kekacauan dan memastikan transisi kekuasaan kepada Sekutu berjalan tertib.
Soekarno dan Hatta, yang baru saja menerima janji kemerdekaan dari Terauchi di Dalat pada 12 Agustus dengan tanggal 24 Agustus sebagai target, belum sepenuhnya percaya bahwa Jepang telah kalah. Mereka masih berpijak pada prosedur yang telah disepakati: kemerdekaan akan diproklamasikan melalui PPKI, sesuai dengan mandat yang diberikan Terauchi.
Sore yang Mencekam, Sjahrir Membawa Kabar
Sore hari itu juga, setelah rombongan Soekarno-Hatta dijamu di Istana Gunseireikan, kantor pusat pemerintahan militer Jepang di Jakarta, Sutan Sjahrir datang menemui Hatta di rumahnya.
Sjahrir membawa kabar yang mengguncang: Jepang telah meminta damai kepada Sekutu. Sebagai seorang intelektual yang telah lama memantau perkembangan politik global melalui siaran radio luar negeri, sebuah kegiatan bawah tanah yang ia lakukan secara rahasia, Sjahrir sudah mengetahui hal ini sejak 10 Agustus 1945.
Sjahrir mengusulkan agar proklamasi kemerdekaan jangan dilakukan oleh PPKI, karena Indonesia merdeka yang lahir melalui badan bentukan Jepang akan dicap oleh Sekutu sebagai "Indonesia buatan Jepang". Sebaiknya, Soekarno sendiri yang menyatakannya sebagai pemimpin rakyat, atas nama rakyat, melalui corong radio.
Hatta kemudian mengajak Sjahrir menemui Soekarno di Pegangsaan Timur 56. Namun Soekarno menolak usul Sjahrir. Sebagai Ketua PPKI, ia merasa tidak bisa bertindak sendiri dengan melewati badan yang ia pimpin. Ia ingin mendapat keterangan dulu dari Gunseikanbu tentang kebenaran berita kekalahan Jepang.
Soekarno dan Hatta belum bisa mempercayai informasi kekalahan Jepang. Bagi mereka, yang baru saja berhadapan langsung dengan Marsekal Terauchi di Dalat dan mendengar janji kemerdekaan pada 24 Agustus, tidak mungkin Jepang bakal kalah perang. Mereka tetap bersikukuh dengan jadwal dan prosedur semula: rapat PPKI pada 16 Agustus, proklamasi pada 24 Agustus.
Di Balik Layar, Para Pemuda Bergerak
Sementara Soekarno-Hatta masih mencari konfirmasi dari Jepang, para pemuda tidak tinggal diam. Chairul Saleh dan kawan-kawannya, yang sejak pagi menunggu di kebun pisang Kemayoran, segera menghampiri Soekarno-Hatta begitu pidato selesai. "Selamat datang kembali Bung Karno, Bung Hatta. Kami semua menunggu oleh-oleh yang Bung bawa dari Saigon," ujar Chairul, seperti diriwayatkan AM Hanafi dalam bukunya Menteng 31: Markas Pemuda Revolusioner Angkatan 45. Chairul menegaskan agar proklamasi segera dilakukan karena Jepang sudah kalah dalam Perang Pasifik.
Namun Soekarno-Hatta tidak menanggapi permintaan Chairul dengan alasan tak ingin membahas soal kemerdekaan di lokasi tersebut.
Ketegangan mulai memuncak. Malam itu juga, para pemuda berkumpul kembali di Menteng Raya 31 dan mulai menyusun langkah-langkah yang kelak berujung pada Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, dua hari kemudian.
Ketika Janji dan Kenyataan Berpapasan
Di Kemayoran, Soekarno berdiri di hadapan ribuan rakyat dan menyampaikan janji kemerdekaan dengan metafora jagung, sebuah janji yang memberi harapan tanpa menyebut Jepang. Namun di balik pidato itu, ia dan Hatta masih terbelenggu oleh prosedur dan ketidakpercayaan pada kabar kekalahan Jepang.
Di Tokyo, Kaisar Hirohito telah mengumumkan penyerahan, sebuah fakta yang mengubah segala perhitungan politik yang telah disepakati di Dalat. Namun fakta itu masih tertutup bagi sebagian besar rakyat Indonesia, termasuk Soekarno dan Hatta.
Dan di Menteng Raya 31, para pemuda, yang telah mengetahui kebenaran lebih dulu, mulai bergerak. Mereka tidak mau menunggu. Mereka tidak mau kemerdekaan sebagai "hadiah". Mereka menginginkan kemerdekaan yang diambil, bukan diberikan.
Pidato "Jagung Berbuah" di Kemayoran adalah titik balik dari optimisme, sebuah janji bahwa kemerdekaan sudah di depan mata. Namun jalan menuju proklamasi masih panjang. Dan dalam tiga hari ke depan, sejarah akan bergerak lebih cepat dari siapa pun, termasuk Soekarno sendiri, yang pernah membayangkan.

















































































