Tiga Puluh Intelijen di Balik Persiapan: Ketika Setiap Langkah Diawasi

Mereka adalah bagian dari Politieke Inlichtingen Dienst (PID)—dinas intelijen politik Hindia Belanda yang dibentuk pada 6 Mei 1916.
Senin, 19 Oktober 2026 02:18 WIB Jurnalis - Ali Imron

RUMAH indekos di Jalan Kramat Raya 106, Batavia, pada suatu malam di bulan Oktober 1928. Di ruang tamu yang sederhana, beberapa pemuda duduk melingkar, berbicara dengan suara pelan. Mereka bukan sedang membahas puisi atau filsafat. Mereka sedang membahas susunan acara kongres, pembagian tugas, dan siapa yang akan berbicara di sesi mana. Namun, di sudut ruangan, atau mungkin di beranda, atau bahkan di rumah seberang, ada orang-orang yang tidak mereka kenalatau yang mereka kenal tetapi tidak mereka percayaiyang mendengarkan, mencatat, dan melaporkan setiap gerak-gerik mereka.

Inilah kenyataan yang harus dihadapi para pemuda menjelang Kongres Pemuda II. Mereka tidak hanya berjuang melawan perbedaan pendapat di antara mereka sendiri. Mereka juga berjuang melawan tiga puluh pasang mata yang sengaja disusupkan untuk mengawasi mereka. Menurut penuturan staf Museum Sumpah Pemuda, dalam Kongres Pemuda II di antara para peserta ternyata juga disisipi sekira 30 anggota intelijen Pemerintah Hindia-Belanda . Mereka bertugas mencegah kongres mengarah ke aksi kemerdekaan Republik Indonesia .

Jumlah itu bukanlah angka yang kecil. Pada Kongres Pemuda I, intelijen yang terlibat diperkirakan hanya 5 hingga 10 orang. Namun, pada Kongres Pemuda II, jumlahnya melonjak menjadi 30 lebih . Lonjakan itu bukan tanpa alasan. Pemerintah kolonial Belanda khawatir para pemuda nantinya menuntut kemerdekaan . Mereka telah melihat bagaimana Kongres Pemuda Imeskipun tidak menghasilkan ikrartelah menyemai benih-benih persatuan yang mereka anggap berbahaya. Kini, mereka tidak ingin kecolongan lagi.

PID: Mesin Pengawasan yang Tak Pernah Tidur
Tiga puluh intelijen itu bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah bagian dari Politieke Inlichtingen Dienst (PID)dinas intelijen politik Hindia Belanda yang dibentuk pada 6 Mei 1916. Fungsi utama PID adalah melakukan pengawasan organisasi dan tokoh pergerakan secara ketat . Mereka tidak hanya mengawasi dari kejauhan. Agen-agen PID kerap disusupkan dalam segala macam rapat politik , dan bahkan, acara selamatan atau sunatan pun harus seizin mereka .

Bagi para pemuda yang sedang mempersiapkan kongres, kehadiran PID bukanlah hal baru. Sejak Kongres Pemuda I, kegiatan pemuda dan bangsa pribumi diawasi dengan ketat oleh PID . Bahkan W.R. Supratmanyang kelak menciptakan Indonesia Rayamengurangi pertemuannya dengan para pemuda dan juga tugas kewartawanannya karena tekanan pengawasan itu . Ia sadar bahwa setiap gerak-geriknya sedang diperhatikan.

Baca juga :