Jakarta, Gesuri.id Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat semakin mengkhawatirkan. Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan tidak lagi sekadar menjadi ancaman, tetapi telah menyebabkan ratusan ribu warga mengalami gangguan pernapasan.
Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak selama periode 18 Agustus hingga 13 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 63.700 kasus terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun atau balita. Bahkan, pada 13 Oktober saja, tercatat 3.897 kasus baru dalam satu hari.
Anggota Komisi IX DPR RI, Vita Ervina, menilai data tersebut menunjukkan bahwa dampak kesehatan karhutla telah menjadi krisis yang sedang berlangsung dan membutuhkan penanganan segera.
Pemerintah pusat dan daerah harus mengubah pendekatan penanganan dari sekadar imbauan dan koordinasi menjadi respons darurat kesehatan yang terukur, terintegrasi, dan berorientasi pada perlindungan masyarakat.
Baca:9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur