Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IX DPR RI, Vita Ervina, mendorong optimalisasi pelaksanaan program Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Sosialisasi kependudukan dan keluarga berencana dinilai vital untuk meningkatkan kesadaran warga dalam membangun keluarga yang sehat, mandiri, dan berkualitas.
Hal tersebut ditegaskan Vita saat menghadiri Sosialisasi Kependudukan dan Keluarga Berencana Bersama Mitra Kerja di Galah Living, Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Kamis (15/10/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 300 warga dari Kecamatan Dukun.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Vita menjelaskan bahwa sosialisasi ini menjadi sarana penting agar program pembangunan keluarga dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di tingkat tapak.
"Hari ini saya bersama Kemendukbangga melakukan sosialisasi program pembangunan keluarga. Kami berharap masyarakat makin peduli terhadap pentingnya perencanaan keluarga masing-masing," ujar Vita.
Menurutnya, keberhasilan program kependudukan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada kesadaran masyarakat dalam menerapkannya di kehidupan sehari-hari.
"Program-program dari Kemendukbangga ini harus benar-benar diresapi dan dirasakan dampaknya di rumah tangga. Pembangunan keluarga yang berkualitas dan kuat menjadi fondasi utama lahirnya masyarakat yang tangguh," tambahnya.
Selain aspek kesehatan, Vita menekankan pentingnya kematangan finansial sebelum membina rumah tangga. Pasangan suami istri diimbau mempertimbangkan kapasitas ekonomi secara matang sebelum memutuskan untuk memiliki anak.
Perencanaan keluarga, lanjut Vita, tidak hanya berfokus pada jumlah anak, melainkan juga kesiapan orang tua dalam menyediakan pendidikan layak, asupan gizi seimbang, serta lingkungan tumbuh kembang yang kondusif.
"Ketika bersiap memiliki anak, kondisi finansial sebaiknya sudah cukup stabil. Hal ini memastikan kebutuhan anak, mulai dari kecukupan gizi hingga pemenuhan pendidikan, dapat dipenuhi dengan baik," jelasnya.
Ia menambahkan, ketahanan ekonomi keluarga memiliki korelasi langsung dengan kesejahteraan masyarakat secara umum. Perencanaan yang matang sejak awal akan membentuk pola pengasuhan yang optimal.
Dalam kesempatan yang sama, Vita turut menyoroti tingginya permohonan dispensasi pernikahan dini di Kabupaten Magelang. Fenomena ini dipengaruhi oleh budaya serta pandangan sosial yang masih melekat di tengah masyarakat.
Ia mengingatkan para orang tua agar tidak terburu-buru mendorong anak menikah sebelum memasuki usia mature secara fisik, mental, maupun finansial.
"Biasanya ketika anak menginjak usia 17 tahun, timbul anggapan bahwa mereka sudah siap menikah. Saya tegaskan, jangan dipaksa menikah jika memang belum siap," tegas Vita.
Kesiapan menikah harus ditinjau dari berbagai dimensi, termasuk kematangan psikologis, kesehatan reproduksi, dan kemampuan ekonomi. Kesiapan fisik ibu juga menjadi kunci penting untuk mendukung kehamilan yang sehat.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Mengaitkan isu pernikahan dini dengan kesehatan generasi mendatang, Vita menegaskan bahwa pernikahan di usia terlalu muda berisiko meningkatkan angka tengkes (stunting).
"Apabila anak usia 17 tahun dipaksa menikah tanpa kesiapan, risiko terjadinya angka stunting akan makin tinggi. Pemenuhan gizi dan kesiapan fisik calon ibu merupakan kunci utama mencegah masalah ini," paparnya.
Vita menegaskan bahwa upaya menekan angka stunting memerlukan pendekatan komprehensif. Perlu ada pemahaman menyeluruh yang mencakup aspek kesiapan orang tua, pola pengasuhan, hingga faktor sosial lingkungan.
"Jika angka stunting tinggi dan anak-anak tidak tumbuh dengan baik, sulit bagi mereka untuk mandiri di masa depan. Edukasi mengenai pembangunan keluarga harus terus diperkuat melalui kerja sama lintas sektor," tutup Vita.

















































































