Medan, Gesuri.id – Ruangan Yayasan Pendidikan Dwituna Harapan Baru di Jalan Sei Batang Serangan Nomor 75, Medan, dipenuhi alunan musik keyboard dan dentuman drum pada Rabu (14/10).
Di tengah riuhnya nada, anak-anak penyandang disabilitas netra bernyanyi dan menari dengan penuh semangat. Tawa serta senyum gembira terpancar dari wajah mereka, memperlihatkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk terus berkarya.
Suasana hangat tersebut menyambut kedatangan Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, yang berkunjung untuk meninjau langsung proses pendidikan dan kehidupan anak-anak penyandang disabilitas netra di Kota Medan.
Rombongan Sofyan Tan disambut dengan tarian Melayu serta penampilan musik dari para siswa dan pengajar. Riki, seorang guru tunanetra, tampil terampil memainkan keyboard. Irama makin hidup ketika Gonzano, salah satu siswa SLB, menghentakkan stik drum. Lantunan suara merdu dari Yosep, disusul penampilan Ica dan Yeti yang bernyanyi sambil menari, kian melengkapi pertunjukan tersebut.
Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Meski tak ada tatapan mata yang saling beradu, setiap nada dan gerakan mampu menyampaikan rasa kagum yang mendalam. Di balik kelancaran penampilan itu, terdapat ketekunan para guru yang sabar mendampingi para siswa mengenali dunia dengan cara mereka sendiri.
Pembina Yayasan Pendidikan Dwituna Harapan Baru, Lindawaty, yang didampingi Kepala Sekolah SLB Harapan Baru Lie Afni, Bendahara Miss Merlyn, serta jajaran guru dan orang tua murid, menyampaikan rasa syukurnya atas kunjungan tersebut. Lindawaty menceritakan perjuangan yayasan dalam mengasuh serta mengedukasi anak-anak tunanetra dan tunanetra majemuk.
"Pendidikan bukan sekadar mengajarkan anak membaca dan menulis braille, melainkan jalan untuk menumbuhkan kemandirian, membangun kepercayaan diri, dan membuka kesempatan agar mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih baik," ujar Lindawaty.
Menanggapi hal tersebut, Sofyan Tan mengaku kagum sekaligus terharu melihat keberanian serta potensi anak-anak di atas panggung.
"Melihat anak-anak tampil percaya diri menjadi pengingat bahwa potensi manusia tidak diukur dari kesempurnaan fisik. Di balik keterbatasan, tersimpan kemampuan besar jika diberikan pendampingan dan kesempatan yang tepat," kata Sofyan Tan.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) tersebut menyatakan komitmennya untuk membantu pengembangan SLB Dwituna Harapan Baru. Ia juga menawarkan beasiswa kuliah penuh di Universitas Satya Terra Bhinneka bagi para lulusan SMA dari yayasan tersebut. Selain itu, mahasiswa yang ingin berkontribusi akan difasilitasi untuk menjadi relawan dan magang di SLB tersebut.
Pesan Kesetaraan dan Keluhuran Hati
Di akhir kunjungannya, legislator dari Daerah Pemilihan Sumatra Utara 1 ini memberikan pesan mendalam mengenai nilai-nilai kesetaraan. Ia menekankan bahwa kondisi fisik yang berbeda bukanlah sebuah aib yang harus disembunyikan.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
"Tidak ada kata bahwa kekurangan tidak bisa melihat, mendengar, atau berjalan itu merupakan sebuah aib. Itu adalah cobaan," ujar Sofyan Tan.
Ia mengimbau masyarakat untuk menilai seseorang berdasarkan keluhuran hati dan perilakunya, bukan semata-mata dari fisik.
"Ada orang yang fisiknya tampak normal, tetapi hatinya tidak normal. Bukankah lebih baik berjiwa normal dan berhati mulia daripada orang yang menganggap dirinya sempurna, tetapi justru membawa aib dan menyengsarakan hidup orang lain?" tuturnya.
Kunjungan tersebut memberikan pelajaran berharga tentang keberanian dan penerimaan. Masa depan anak-anak istimewa tidak ditentukan oleh keterbatasan mereka, melainkan oleh seberapa luas kesempatan yang diberikan oleh keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara agar mereka dapat meraih cita-citanya.

















































































