Antrean BBM di Bali Bukan Karena Lonjakan Konsumsi, Melainkan Pola Distribusi

Pertamina didorong memperbaiki mekanisme penyaluran agar pasokan dapat segera menjangkau SPBU yang mengalami kekurangan stok.
Kamis, 15 Oktober 2026 18:01 WIB Jurnalis - Syahrul Arsyad

Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VI DPR RI, I Gusti Ngurah Alit Kesuma Kelakan, menilai antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali bukan disebabkan lonjakan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang tidak terprediksi, melainkan persoalan pola distribusi yang perlu dibenahi.

Ia mendorong PT Pertamina (Persero) memperbaiki mekanisme penyaluran agar pasokan dapat segera menjangkau SPBU yang mengalami kekurangan stok.

Masalahnya ini bukan karena lonjakan (konsumsi) yang saya lihat, tetapi lebih banyak di pola distribusi yang perlu diubah karena (antisipasi) lonjakan sebenarnya sudah dihitung, ujar Alit Kelakan, Kamis (15/10/2026).

Politikus PDI Perjuangan itu menjelaskan, potensi kenaikan konsumsi BBM harian umumnya telah diperhitungkan dengan kisaran antisipasi sebesar 10 hingga 20 persen. Karena itu, menurutnya, persoalan yang terjadi di Bali perlu ditangani dengan mengevaluasi efektivitas distribusi, bukan semata-mata mengaitkannya dengan peningkatan permintaan masyarakat.

Sebagai gambaran, konsumsi Pertalite di Bali mencapai sekitar 2.200 kiloliter (KL) per hari. Dengan kebutuhan sebesar itu, kelancaran distribusi dari terminal BBM ke SPBU menjadi faktor penting agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu.

Baca juga :