Jakarta, Gesuri.id Anggota Komisi VII DPR RI, Bane Raja Manalu, mempertanyakan konsep emisi nol bersih (zero emission) dalam pengembangan kendaraan listrik nasional jika sumber energi listriknya masih didominasi pembangkit berbasis fosil.
Menurutnya, percepatan adopsi kendaraan listrik harus diimbangi dengan transisi energi yang bersih agar target pengurangan emisi tidak sekadar menjadi jualan istilah.
Politisi Fraksi PDI Perjuangan tersebut menilai klaim ramah lingkungan pada kendaraan listrik perlu diteliti secara menyeluruh dari hulu ke hilir (well-to-wheel). Jangan sampai elektrifikasi sektor transportasi hanya memindahkan sumber polusi dari knalpot kendaraan ke cerobong pembangkit listrik.
Baca:Kisah PerjuanganGanjardari Mahasiswa Sampai Jadi Capres
Ketika disebut mau zero emission, apakah betul zero emission itu terjadi? Jangan-jangan kita hanya sekadar mengalihkan emisi dari jalanan ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara, ujar Bane dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panja Komisi VII DPR RI bersama Dirjen ILMATE Kementerian Perindustrian di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Rabu (9/9).