Soroti Aksi Protes Pemuda di Asia, Cintya Amanda: Suara Warga Sering Kali Tetap Diabaikan

Di Hadapan Delegasi Asia, Politisi Muda PDI Perjuangan Cintya Amanda Sentil Jebakan Tokenisme dan Politik Uang.
Jum'at, 04 September 2026 11:59 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Yoyakarta, Gesuri.id Isu kesetaraan gender, keterwakilan perempuan, serta masa depan kepemimpinan generasi muda menjadi salah satu sorotan dalam pembukaan CALD Conference on Democratic Resilience in Southeast and East Asia di Karaton Ballroom, Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, Jumat (4/9/2026).

Di hadapan puluhan politisi, anggota parlemen, aktivis, dan pengamat politik dari berbagai negara Asia, kader muda PDI Perjuangan Cintya Amanda Labetta Arie Seno menyampaikan pandangan reflektif sekaligus kritis mengenai realitas yang masih dihadapi generasi muda dan perempuan dalam kehidupan politik.

Cintya menyoroti maraknya gelombang aksi protes yang dipelopori generasi muda di berbagai kawasan Asia. Menurutnya, fenomena tersebut muncul karena saluran politik formal sering kali gagal menampung dan merespons aspirasi publik secara bermakna.

Kaum muda turun ke jalan karena mereka merasa kekhawatiran dan aspirasi mereka tidak lagi didengar melalui saluran formal yang ada. Namun ironisnya, bahkan setelah aksi tersebut dilakukan, kondisi kerap kembali tanpa ada perubahan nyata. Kebebasan berpendapat pada akhirnya hanya disajikan sebagai sebatas tokenisme, bukan hak demokrasi yang substansial, karena suara warga tetap diabaikan, tegas Cintya.

Baca:Ini 5 Kutipan InspiratifGanjarPranowo Tentang Anak Muda

Baca juga :