Yoyakarta, Gesuri.id — Isu kesetaraan gender, keterwakilan perempuan, serta masa depan kepemimpinan generasi muda menjadi salah satu sorotan dalam pembukaan CALD Conference on Democratic Resilience in Southeast and East Asia di Karaton Ballroom, Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, Jumat (4/9/2026).
Di hadapan puluhan politisi, anggota parlemen, aktivis, dan pengamat politik dari berbagai negara Asia, kader muda PDI Perjuangan Cintya Amanda Labetta Arie Seno menyampaikan pandangan reflektif sekaligus kritis mengenai realitas yang masih dihadapi generasi muda dan perempuan dalam kehidupan politik.
Cintya menyoroti maraknya gelombang aksi protes yang dipelopori generasi muda di berbagai kawasan Asia. Menurutnya, fenomena tersebut muncul karena saluran politik formal sering kali gagal menampung dan merespons aspirasi publik secara bermakna.
"Kaum muda turun ke jalan karena mereka merasa kekhawatiran dan aspirasi mereka tidak lagi didengar melalui saluran formal yang ada. Namun ironisnya, bahkan setelah aksi tersebut dilakukan, kondisi kerap kembali tanpa ada perubahan nyata. Kebebasan berpendapat pada akhirnya hanya disajikan sebagai sebatas tokenisme, bukan hak demokrasi yang substansial, karena suara warga tetap diabaikan," tegas Cintya.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda

Cintya juga menyoroti hambatan sistemik yang masih membatasi ruang bagi perempuan dan generasi muda untuk berkiprah di panggung politik. Di antaranya, besarnya pengaruh politik uang, kuatnya patronase, serta dominasi elite senior.
"Demokrasi sejatinya dibangun di atas prinsip keterwakilan. Namun besarnya pengaruh uang dan patronase telah menghambat kita untuk terwakili secara utuh. Bagi perempuan, hambatannya jauh lebih tinggi. Kita mungkin memiliki hak untuk memilih dan mencalonkan diri, tetapi hak berpartisipasi tidak selalu berbanding lurus dengan kesempatan yang sama untuk memengaruhi keputusan politik," ujar Cintya, kader perempuan muda yang dipercaya menjadi koordinator pelaksana forum internasional tersebut.
Komitmen terhadap regenerasi kepemimpinan serta pembukaan ruang politik bagi generasi muda juga mendapat penegasan dari Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto saat menyampaikan Keynote Address.
Hasto secara khusus memperkenalkan Cintya di hadapan peserta konferensi sebagai bagian dari upaya PDI Perjuangan memberikan ruang dan promosi bagi politisi muda.
"Cynthia (Amanda), kami menugaskannya sebagai koordinator panitia pelaksana seminar ini. Ini adalah bagian dari promosi bagi politisi muda di PDI Perjuangan. Cynthia, semoga segera dilantik sebagai anggota parlemen. Ya, sebagai anggota parlemen di Provinsi Yogyakarta. Jadi, ini adalah Cynthia. Salah satu anggota parlemen termuda di Yogyakarta. Berikan tepuk tangan untuk Cynthia," ujar Hasto yang disambut tepuk tangan audiens.
Lebih lanjut, Hasto menegaskan bahwa pelembagaan partai harus menjadi jembatan bagi lahirnya kader-kader muda yang kompeten dan berintegritas.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
"Institusi internal yang kuat dan demokratis serta pengembangan kader politik adalah dimensi pelembagaan yang sangat penting. Melalui pelembagaan ini, PDI Perjuangan berkomitmen memperkuat aksi strategis dimulai dari rekrutmen anggota muda, pendidikan politik di Sekolah Partai, hingga pengembangan kader pemimpin. Kader berkinerja tinggi kemudian dicalonkan untuk melayani sebagai legislator dan pemimpin eksekutif," tambah Hasto.
Konferensi internasional yang diinisiasi Council of Asian Liberals and Democrats (CALD) bekerja sama dengan PDI Perjuangan dan Friedrich Naumann Foundation (FNF) Asia Office tersebut dihadiri delegasi lintas negara.
Para peserta terdiri atas perwakilan partai politik, legislator, aktivis, dan masyarakat sipil dari sejumlah negara, antara lain Filipina, Singapura, Thailand, Korea Selatan, Jepang, hingga perwakilan oposisi dan masyarakat sipil dari Kamboja serta Vietnam.
Dari Indonesia, forum tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh muda dan fungsionaris PDI Perjuangan, di antaranya Hanjaya Setiawan, Mohamad Guntur Romli, Trini Puspa, serta Rahma Nur Agnitya Charliyan.
Turut hadir jajaran pengurus DPD PDI Perjuangan Daerah Istimewa Yogyakarta serta sejumlah kepala daerah dari PDI Perjuangan di wilayah Yogyakarta, di antaranya Hasto Wardoyo dan Endah Subekti Kuntariningsih.

















































































