Jakarta, Gesuri.id Anggota Komisi VII DPR RI, Banyu Biru Djarot, menyoroti ketimpangan tajam dalam ekosistem perfilman Indonesia. Ia menilai ada ledakan kreativitas yang masif di sektor hulu melalui lonjakan produksi film, namun sektor hilir belum mampu mengakomodasi pertumbuhan tersebut.
Di hulu ada ledakan, tapi di hilir bermasalah. Tidak bisa mengakomodasi ledakan tersebut, termasuk dalam hal distribusi, ujar Banyu Biru dalam rapat dengar pendapat Komisi VII DPR RI bersama Direktur Eksekutif Cinema Poetica dan Direktur Utama PT Rangkai Kreativitas Indonesia di Gedung DPR RI, Senin (22/6).
Banyu membeberkan data yang menunjukkan sekitar 244 film Indonesia berhasil tayang di bioskop sepanjang tahun lalu. Namun, jumlah film yang mengantre untuk mendapatkan slot tayang diperkirakan jauh lebih banyak.
Baca:9 Prestasi MenterengGanjarPranowo Selama Menjabat Gubernur
Kondisi ini, menurut Banyu, memicu pertanyaan besar mengenai mekanisme seleksi, otoritas penentu kebijakan dalam rantai distribusi film nasional. Ia menegaskan bahwa persoalan krusial bioskop saat ini mencakup tiga aspek utama: pembiayaan, teknologi, dan sistem distribusi.