Ikuti Kami

Sumbat Distribusi Film Nasional, Banyu Biru Soroti Ketimpangan Hulu-Hilir dan Tantangan AI

Ia menilai ada "ledakan" kreativitas yang masif di sektor hulu melalui lonjakan produksi film, namun sektor hilir belum mampu mengakomodasi.

Sumbat Distribusi Film Nasional, Banyu Biru Soroti Ketimpangan Hulu-Hilir dan Tantangan AI
Anggota Komisi VII DPR RI, Banyu Biru Djarot.

​Jakarta, Gesuri.id – Anggota Komisi VII DPR RI, Banyu Biru Djarot, menyoroti ketimpangan tajam dalam ekosistem perfilman Indonesia. Ia menilai ada "ledakan" kreativitas yang masif di sektor hulu melalui lonjakan produksi film, namun sektor hilir belum mampu mengakomodasi pertumbuhan tersebut.

​"Di hulu ada ledakan, tapi di hilir bermasalah. Tidak bisa mengakomodasi ledakan tersebut, termasuk dalam hal distribusi," ujar Banyu Biru dalam rapat dengar pendapat Komisi VII DPR RI bersama Direktur Eksekutif Cinema Poetica dan Direktur Utama PT Rangkai Kreativitas Indonesia di Gedung DPR RI, Senin (22/6).

​Banyu membeberkan data yang menunjukkan sekitar 244 film Indonesia berhasil tayang di bioskop sepanjang tahun lalu. Namun, jumlah film yang mengantre untuk mendapatkan slot tayang diperkirakan jauh lebih banyak.

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

​Kondisi ini, menurut Banyu, memicu pertanyaan besar mengenai mekanisme seleksi, otoritas penentu kebijakan dalam rantai distribusi film nasional. Ia menegaskan bahwa persoalan krusial bioskop saat ini mencakup tiga aspek utama: pembiayaan, teknologi, dan sistem distribusi.

​Di tengah sumbatnya jalur bioskop konvensional, Banyu melihat adanya alternatif besar pada pasar digital. Dengan tingkat penetrasi internet di Indonesia yang kini menembus lebih dari 80 persen, peralihan perilaku penonton ke platform digital membuka peluang emas bagi distribusi film di luar bioskop sebagai secondary market.

​Selain masalah distribusi, Banyu juga mengingatkan industri sinema domestik untuk bersiap menghadapi disrupsi teknologi, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Tantangan ini tidak hanya berdampak pada perlindungan hak cipta karya, tetapi juga menuntut peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM).

​"Bukan teknologinya yang jadi masalah, tetapi kesiapan SDM kita. Bagaimana insan perfilman bisa adaptif dan bersaing secara global," tegasnya.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

​Senada dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif Cinema Poetica, Adrian Jonathan Pasaribu, menekankan bahwa perfilman harus dipandang sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling terhubung—mulai dari produksi, distribusi, eksibisi, apresiasi, pendidikan, hingga pengarsipan.

​Adrian menyayangkan tren yang sering membandingkan industri film Indonesia secara parsial dengan Amerika Serikat atau Korea Selatan tanpa melihat keunikan lokal di berbagai daerah. Menurutnya, keberhasilan sebuah film tidak boleh hanya diukur dari angka penjualan tiket, melainkan dari makna, gagasan, serta dampak sosialnya.

​"Tidak semuanya bisa masuk. Umumnya wahana eksibisi di Indonesia mengutamakan film fiksi naratif berdurasi panjang karena itu yang familier. Sementara itu, pendekatan jumlah bioskop saat ini tidak sebanding dengan pesatnya jumlah film yang siap tayang," pungkas Adrian.

Quote