Ikuti Kami

Distribusi Digital: Solusi Samuel Wattimena Atasi Keterbatasan Layar Film Nasional

Langkah ini dinilai efektif untuk menyapa penonton di berbagai daerah yang belum memiliki infrastruktur bioskop memadai.

Distribusi Digital: Solusi Samuel Wattimena Atasi Keterbatasan Layar Film Nasional
Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena.

Jakarta, Gesuri.id — Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel Wattimena, menegaskan bahwa penguatan distribusi digital merupakan solusi strategis untuk memperluas jangkauan film nasional. 

Langkah ini dinilai efektif untuk menyapa penonton di berbagai daerah yang belum memiliki infrastruktur bioskop memadai.

Selama ini, perhatian publik lebih banyak tertuju pada minimnya jam tayang film domestik di jaringan bioskop raksasa. Padahal, menurut Samuel, akar masalahnya justru terletak pada tingginya biaya distribusi fisik yang harus ditanggung oleh para pembuat film.

Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak

“Banyak film nasional yang tidak mampu memperbanyak salinan (copy) untuk disebarkan ke seluruh Indonesia karena biayanya sangat besar. Jadi, persoalannya bukan cuma soal kuota tayang, melainkan kendala distribusi,” ujar Samuel usai menghadiri Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (22/6).

Dalam rapat yang menghadirkan Direktur Eksekutif Cinema Poetica dan Direktur Utama PT Rangkai Kreativitas Indonesia tersebut, Samuel menyebut biaya logistik salinan film masih mencekik rumah produksi independen. Akibatnya, potensi pasar di daerah kerap terabaikan.

Politikus Fraksi PDI Perjuangan ini menilai, pemanfaatan platform digital jauh lebih realistis ketimbang memaksakan pembangunan gedung bioskop baru secara masif di daerah dengan ceruk penonton yang kecil. Ia pun mengapresiasi model distribusi digital milik PT Rangkai Kreativitas Indonesia yang mampu menembus wilayah perdesaan.

“Di era sekarang, kita tidak perlu terpaku bahwa setiap daerah harus punya gedung bioskop. Yang krusial adalah bagaimana film nasional bisa diakses luas lewat platform digital,” tuturnya.

Baca: Ini 7 Fakta Unik & Menarik Tentang Ganjar Pranowo

Namun, Samuel memberikan catatan tebal mengenai ancaman pembajakan. Menurutnya, adaptasi teknologi digital harus dibarengi dengan proteksi hak cipta yang ketat dari pemerintah agar ekosistem baru ini tidak justru merugikan kreator.

Selain itu, ia mendorong lahirnya lebih banyak platform digital lokal demi mengimbangi dominasi raksasa global. Keberadaan platform lokal terbukti memberikan ruang bagi bagi-hasil keuntungan yang lebih adil bagi produser.

“Populasi Indonesia sangat besar, kita tidak bisa hanya bergantung pada satu pemain lokal saja. Perlu ada ekosistem yang lebih kompetitif,” tambah Samuel.
Di akhir penjelasannya, legislator asal Indonesia Timur ini mengingatkan bahwa film bukan sekadar komoditas hiburan, melainkan media edukasi dan perekat kebinekaan. Lewat kekuatan narasi dan cerita daerah, film nasional dinilai mampu memperkuat rasa kebangsaan masyarakat.

Quote