Jakarta, Gesuri.id Generasi muda saat ini, khususnya yang termasuk dalam Generasi Z dan Generasi Alfa, dinilai banyak yang belum mengenal atau memahami esensi dari peristiwa sejarah Kudatuli. Padahal, tragedi yang terjadi pada 27 Juli 1996 tersebut merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan demokrasi dan reformasi di Indonesia.
Politikus senior PDI Perjuangan Ribka Tjiptaning yang akrab disapa Mbak Ning menjelaskan bahwa Kudatuli merupakan akronim dari Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli. Kendati menggunakan istilah kerusuhan, ia meluruskan bahwa pihak PDI Promega saat itu sama sekali tidak melakukan aksi anarkistis, melainkan hanya mempertahankan hak mereka.
Sebetulnya tepatnya sih bukan kerusuhan ya, tapi itu sudah nama terkenalnya. Kita tidak rusuh kok. Orang kita ini PDI Promega waktu itu menjaga kantor kita sendiri lalu diserbu. Yang rusuh merekalah yang menyerbu, kata Mbak Ning kepada Moncong Putih di akun Instagram.
Baca:Ini 3 Faktor yang MembuatGanjarPranowo Menjadi Capres Terkuat!
Menurut Mbak Ning, akar konflik bermula dari ketidaksukaan Presiden Soeharto terhadap kepemimpinan Megawati Soekarnoputri di tubuh PDI. Rezim Orde Baru kemudian memberikan restu dan dukungan penuh kepada kubu Soerjadi untuk mendepak Megawati, meskipun arus bawah partai menghendaki sebaliknya.