Jakarta, Gesuri.id - Membaca laporan terbaru Moodys membikin perasaan campur aduk. Di satu sisi, Indonesia masih diberi kepercayaan melalui peringkat Baa2. Di sisi lain, outlook diturunkan menjadi negatif. Ini bukan catatan teknis yang bisa dibaca sambil lalu. Ini adalah sinyal. Dan bagi saya selaku anggota Komisi XI DPR RI, ini adalah alarm keras tentang arah kebijakan ekonomi kita ke depan.
Moodys secara gamblang menyampaikan kegelisahan pasar. Yang disorot bukan sekadar angka pertumbuhan atau rasio utang, tetapi soal yang lebih mendasar, yakni kredibilitas dan konsistensi kebijakan. Prediktabilitas kebijakan dinilai menurun karena perumusan dan pelaksanaannya tidak selalu sejalan. Bagi pasar, ketidaksinkronan seperti ini bukan soal selera, tetapi soal kepercayaan. Sekali kredibilitas tergerus, dampaknya bisa panjang.
Laporan ini juga menyinggung risiko tata kelola. Indikator governance yang melemah memberi sinyal adanya potensi pelemahan institusi. Ini poin yang menurut saya tidak boleh dianggap remeh. Ekonomi yang besar tanpa institusi yang kuat ibarat bangunan tinggi dengan fondasi rapuh, terlihat megah, tetapi rawan guncangan.
Baca:GanjarPranowo Tegaskan Pentingnya Integritas bagi Pemimpin
Di sektor fiskal, Moodys membaca pola yang patut diwaspadai. Belanja yang agresif demi mengejar pertumbuhan menjadi berisiko jika tidak dibarengi penguatan basis penerimaan negara. Defisit bisa melebar, sementara ruang fiskal kita sebenarnya tidak luas. Perluasan program sosial memang penting, tetapi jika tidak dihitung dengan cermat, justru bisa menekan anggaran dan membatasi ruang gerak negara di masa depan.