Jakarta, Gesuri.id -- Politisi PDI Perjuangan, Adian Napitupulu mengkritik keras kebijakan pemerintah yang menggelontorkan anggaran raksasa khusus untuk menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis senilai Rp335 triliun untuk tahun 2026.
Sementara di waktu bersamaan ada cerita pilu mengenaskan dari anak bangsa di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bocah 10 tahun, YBS, murid kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada diduga bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan pulpen.
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
"Negara sedang sibuk dengan anggaran raksasa Makan Bergizi Gratis senilai Rp335 Triliun untuk tahun 2026. Tapi di saat yang sama, berita pilu datang dari Ngada, NTT. Seorang anak kelas IV SD, YBS (10), memilih mengakhiri hidupnya," kata Adian melalui unggahannya di akun Instagram, dikutip pada Rabu (4/2/2026).
Pemicunya sangat sederhana, ia hanya ingin membeli buku dan pena, tapi ibunya tak punya uang sama sekali.
Bayangkan, ujar Adian, di tengah gegap gempita proyek triliunan, seorang anak cerdas harus menyerah karena tak punya modal untuk menulis mimpinya di sekolah.
"Tragedi ini adalah potret nyata ketimpangan. Anggaran ratusan triliun seolah tak menyentuh pondok reyot di Dusun Sawasina," cetusnya.
"Apa artinya makan bergizi gratis jika anak-anak di pelosok masih mati karena putus asa tak punya alat tulis? Jika kesehatan mental mereka hancur karena tekanan ekonomi yang tak ada habisnya?" sambung anggota DPR RI berlatarbelakang aktivis tersebut.
Adian lantas menggarisbawahi bahwa kematian YBS adalah rapor merah terutama bagi mereka yang duduk di kursi pengambil kebijakan.
"Jangan biarkan Rp 335 triliun itu cuma jadi bancakan birokrasi, sementara nyawa anak bangsa terus berguguran karena kemiskinan struktural," tegasnya.
Kasus YBS mencuat setelah diketahui bahwa sang anak meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp10 ribu. Namun permintaan itu tak terpenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Latar belakang siswa laki-laki berinisial YBS berusia 10 tahun itu dari keluarga dengan ekonomi sangat terbatas.
Ibu korban berinisal MGT, seorang janda yang bekerja sebagai petani sekaligus buruh serabutan. Dia sendirian bekerja untuk menghidupi lima orang anak.
Ayah korban diketahui telah meninggal dunia saat YBS masih dalam kandungan, sehingga ibunya harus menafkahi lima anak sendirian. Kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas membuat kebutuhan dasar kerap sulit dipenuhi.
Bahkan untuk tinggal bersama di bawah satu atap di dalam gubuk pun, mereka tak sanggup. Untuk meringankan beban sang ibu, korban diminta tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana yang berada di kebun.
Baca: Ganjar Pranowo Tegaskan Pentingnya Integritas bagi Pemimpin
Bagi orang tua korban, uang sebesar Rp10 ribu saja bukan perkara mudah untuk didapatkan. Kondisi ini yang membuat ibu korban tidak dapat memenuhi permintaan anaknya untuk membeli buku dan pena.
Warga dan tetangga mengenal YBS anak yang baik, pendiam, dan rajin belajar. Ia jarang menunjukkan kesedihan, sehingga kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi komunitas desa.
Ibu korban, MGT (47) menuturkan detik-detik perpisahannya dengan putranya sebelum meninggal dunia. Sebelum MGT berpisah dengan anaknya, dia masih sempat menasihatinya agar rajin bersekolah seraya menjelaskan kondisi ekonomi keluarga yang terbatas.
Bagi orang tua korban, uang sebesar Rp10 ribu saja bukan perkara mudah untuk didapatkan. Kondisi ini yang membuat ibu korban tidak dapat memenuhi permintaan anaknya untuk membeli buku dan pena.

















































































