Ikuti Kami

Outlook Negatif Moody’s, Alarm Keras untuk Arah Kebijakan Ekonomi Indonesia

Oleh: Dr. Harris Turino, S.T., S.H., M.Si., M.M. - Kapoksi PDI Perjuangan Komisi XI DPR RI

Outlook Negatif Moody’s, Alarm Keras untuk Arah Kebijakan Ekonomi Indonesia
Dr. Harris Turino, S.T., S.H., M.Si., M.M. - Kapoksi PDI Perjuangan Komisi XI DPR RI.

Jakarta, Gesuri.id - Membaca laporan terbaru Moody’s membikin perasaan campur aduk. Di satu sisi, Indonesia masih diberi kepercayaan melalui peringkat Baa2. Di sisi lain, outlook diturunkan menjadi negatif. Ini bukan catatan teknis yang bisa dibaca sambil lalu. Ini adalah sinyal. Dan bagi saya selaku anggota Komisi XI DPR RI, ini adalah alarm keras tentang arah kebijakan ekonomi kita ke depan.

Moody’s secara gamblang menyampaikan kegelisahan pasar. Yang disorot bukan sekadar angka pertumbuhan atau rasio utang, tetapi soal yang lebih mendasar, yakni kredibilitas dan konsistensi kebijakan. Prediktabilitas kebijakan dinilai menurun karena perumusan dan pelaksanaannya tidak selalu sejalan. Bagi pasar, ketidaksinkronan seperti ini bukan soal selera, tetapi soal kepercayaan. Sekali kredibilitas tergerus, dampaknya bisa panjang.

Laporan ini juga menyinggung risiko tata kelola. Indikator governance yang melemah memberi sinyal adanya potensi pelemahan institusi. Ini poin yang menurut saya tidak boleh dianggap remeh. Ekonomi yang besar tanpa institusi yang kuat ibarat bangunan tinggi dengan fondasi rapuh, terlihat megah, tetapi rawan guncangan.

Baca: Ganjar Pranowo Tegaskan Pentingnya Integritas bagi Pemimpin

Di sektor fiskal, Moody’s membaca pola yang patut diwaspadai. Belanja yang agresif demi mengejar pertumbuhan menjadi berisiko jika tidak dibarengi penguatan basis penerimaan negara. Defisit bisa melebar, sementara ruang fiskal kita sebenarnya tidak luas. Perluasan program sosial memang penting, tetapi jika tidak dihitung dengan cermat, justru bisa menekan anggaran dan membatasi ruang gerak negara di masa depan.

Ketidakpastian juga muncul dari Danantara. Tata kelola dan skema pendanaan yang belum sepenuhnya jelas dinilai berpotensi menimbulkan kewajiban kontinjensi bagi negara. Ditambah lagi, adanya kemungkinan perubahan rezim kebijakan fiskal dan moneter membuat ketidakpastian semakin tinggi. Dampaknya terasa nyata. Daya tarik investasi bisa melemah, biaya pinjaman berpotensi naik, dan volatilitas pasar terlihat dari pergerakan saham serta nilai tukar yang semakin sensitif terhadap isu kredibilitas. Di dalam negeri, tekanan sosial politik yang meningkat juga dinilai dapat mengganggu stabilitas.

Namun, laporan ini tidak sepenuhnya gelap. Peringkat Baa2 tetap dipertahankan karena fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kokoh. Pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen, defisit fiskal dijaga di bawah 3 persen PDB, dan rasio utang relatif lebih rendah dibandingkan negara sekelas Baa lainnya. Semua ini tentu dengan satu syarat penting, disiplin kebijakan harus tetap dijaga.

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

Moody’s juga memberi peta jalan yang jelas. Kenaikan peringkat memang kecil kemungkinannya dalam situasi outlook negatif, tetapi bukan mustahil jika kredibilitas kebijakan dipulihkan, arah kebijakan dibuat jelas dan konsisten, penerimaan negara diperkuat secara berkelanjutan, serta pertumbuhan struktural didorong melalui peningkatan daya saing dan pendalaman sektor keuangan. Sebaliknya, penurunan peringkat bisa terjadi jika ekspansi fiskal dilakukan tanpa reformasi penerimaan, tekanan eksternal berkepanjangan dibiarkan, atau risiko BUMN membesar akibat tata kelola yang lemah, terutama yang terkait dengan Danantara.

Sebagai catatan tambahan yang tak kalah penting, Moody’s juga menurunkan penilaian kekuatan ekonomi Indonesia dari a2 menjadi a1. Alasannya sederhana tetapi serius, tingkat diversifikasi ekonomi kita dinilai belum sepadan dengan ukuran ekonomi nasional, karena masih bertumpu pada komoditas dan sektor tertentu. Skor akhir penilaian kini berada di rentang Baa1 hingga Baa3, turun dari sebelumnya A2 hingga Baa1.

Pesan Moody’s sangat terang. Indonesia memang belum bisa dikatakan kehilangan fondasi, tetapi sedang diuji arah dan konsistensinya. Ketahanan makro adalah jangkar, tetapi kredibilitas kebijakan adalah kompas. Tanpa kompas yang jelas, kapal besar bernama Indonesia bisa oleng, meski mesinnya masih kuat. Sebaliknya, dengan kebijakan yang disiplin, transparan, dan konsisten, outlook negatif ini bukan akhir cerita, melainkan peringatan dini agar kita kembali ke jalur yang benar demi pertumbuhan yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Quote