Bang Doel: Ancaman Terbesar Semangat Kudatuli Hari Ini Adalah Lupa Sejarah

Serangan 27 Juli 1996 gagal membungkam gagasan demokrasi. Namun, kini tantangan yang dihadapi jauh berbeda.
Sabtu, 18 Juli 2026 20:12 WIB Jurnalis - Nurfahmi Budi Prasetyo

Jakarta, Gesuri.id Wakil Gubernur DKI Jakarta yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kebudayaan Rano Karno mengingatkan bahwa tiga dekade setelah Peristiwa Kudatuli, ancaman terhadap demokrasi tidak lagi datang melalui kekerasan fisik, melainkan melalui hilangnya ingatan kolektif bangsa terhadap sejarah perjuangan.

Hal itu disampaikan Rano saat menghadiri Public Lecture Jalan Buntu Reformasi di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (18/7).

Menurut Bang Doel sapaan akrabnya, Serangan 27 Juli 1996 gagal membungkam gagasan demokrasi. Namun, kini tantangan yang dihadapi jauh berbeda.

Tiga puluh tahun lalu sebuah kantor diserbu, tetapi gagasannya gagal dibunuh. Hari ini ujian kita berbeda. Gagasan itu tidak lagi terancam oleh serbuan, tetapi oleh kelupaan, oleh kelelahan, dan oleh kita sendiri yang mungkin terlalu nyaman, ujarnya.

Karena itu, ia menegaskan peringatan Kudatuli tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan.

Baca juga :