Jakarta, Gesuri.id – Wakil Gubernur DKI Jakarta yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kebudayaan Rano Karno mengingatkan bahwa tiga dekade setelah Peristiwa Kudatuli, ancaman terhadap demokrasi tidak lagi datang melalui kekerasan fisik, melainkan melalui hilangnya ingatan kolektif bangsa terhadap sejarah perjuangan.
Hal itu disampaikan Rano saat menghadiri Public Lecture Jalan Buntu Reformasi di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (18/7).
Menurut Bang Doel sapaan akrabnya, Serangan 27 Juli 1996 gagal membungkam gagasan demokrasi. Namun, kini tantangan yang dihadapi jauh berbeda.
"Tiga puluh tahun lalu sebuah kantor diserbu, tetapi gagasannya gagal dibunuh. Hari ini ujian kita berbeda. Gagasan itu tidak lagi terancam oleh serbuan, tetapi oleh kelupaan, oleh kelelahan, dan oleh kita sendiri yang mungkin terlalu nyaman," ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan peringatan Kudatuli tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan.
"Tugas peringatan ini bukan sekadar mengenang kemenangan, tetapi memastikan pengorbanan para pejuang demokrasi tidak dihapus oleh kelalaian generasi yang menikmati hasilnya," katanya.
Rano juga mengutip puisi Wiji Thukul yang menurutnya tetap relevan hingga saat ini.
"Dulu pesannya hanya satu, lawan. Hari ini mungkin perlu kita lengkapi: lawan lupa, lawan jalan buntu, lawan diri sendiri ketika mulai nyaman dengan ketidakadilan," ucapnya.
Ia berharap forum peringatan 30 tahun Kudatuli tidak hanya melahirkan analisis tentang tantangan demokrasi, tetapi juga menghasilkan gagasan dan jalan keluar agar cita-cita Reformasi tetap hidup di tengah masyarakat.
#30tahunkudatuli
#Diponegoro58
#PDIPerjuangan
#MegawatiSoekarnoPutri

















































































