Ikuti Kami

Vedi Hadiz: Kudatuli Jadi Simbol Perlawanan yang Mempercepat Reformasi, tetapi Demokrasi Belum Penuhi Cita-cita Keadilan

Kudatuli merupakan momentum bersejarah yang menjadi simbol perlawanan terhadap rezim Orde Baru dan ikut mempercepat lahirnya Reformasi 98

Vedi Hadiz: Kudatuli Jadi Simbol Perlawanan yang Mempercepat Reformasi, tetapi Demokrasi Belum Penuhi Cita-cita Keadilan
Guru Besar Pusat Studi Asia University of Melbourne, Australia, Vedi R. Hadiz (tengah keempat dari kiri) - Foto: Alvin/Gesuri.id

Jakarta, Gesuri.id – Guru Besar Pusat Studi Asia University of Melbourne, Australia, Vedi R. Hadiz, menegaskan Peristiwa Kudatuli atau Serangan 27 Juli 1996 merupakan momentum bersejarah yang menjadi simbol perlawanan terhadap rezim Orde Baru dan ikut mempercepat lahirnya Reformasi 1998. 

Namun, lanjut Vedi, setelah tiga dekade berlalu, cita-cita menghadirkan Indonesia yang lebih adil dinilainya belum sepenuhnya terwujud.

Hal itu disampaikan Vedi dalam Kuliah Umum bertajuk "Jalan Buntu Reformasi" pada peringatan 30 Tahun Peristiwa Kudatuli di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (18/7).

Menurut Vedi, Kudatuli merupakan puncak dari wajah otoritarianisme Orde Baru yang menelan banyak korban.

"Kudatuli adalah peristiwa yang amat bersejarah. Itu merupakan puncak dari otoritarianisme Orde Baru. Banyak orang meninggal, banyak orang dikejar, termasuk teman-teman saya yang sampai sekarang belum ditemukan," ujarnya.

Ia mengatakan tidak dapat dipungkiri bahwa PDI pada masa itu menjadi simbol utama perlawanan terhadap kekuasaan yang represif.

"PDI pada waktu itu menjadi simbol perlawanan. Kudatuli mempunyai peranan terhadap Reformasi Indonesia, itu sangat benar," katanya.

Meski demikian, Vedi mengingatkan tumbangnya Orde Baru tidak hanya disebabkan oleh gerakan rakyat.

Menurutnya, krisis ekonomi Asia 1997-1998 juga menjadi faktor penting yang mempercepat kejatuhan rezim Soeharto.

"Kita juga harus mengerti bahwa Orde Baru tidak jatuh hanya karena adanya gerakan rakyat, walaupun gerakan rakyat itu sangat penting dan banyak dipengaruhi oleh perlawanan yang dimulai dari Kudatuli. Tetapi juga karena krisis ekonomi besar-besaran yang belum pernah dialami Indonesia sebelumnya," jelasnya.

Vedi kemudian mengajak publik melihat perjalanan Reformasi secara kritis setelah 30 tahun berlalu.

Ia menilai Indonesia memang berhasil memperoleh berbagai kebebasan sipil yang sebelumnya tidak dinikmati pada masa Orde Baru, seperti kebebasan berbicara, berkumpul, dan kebebasan pers.

"Kalau 30 tahun lalu kita berkumpul seperti ini, tentara sudah datang. Dulu saya sering berbicara di depan umum, polisi datang lalu kami harus kabur. Sekarang itu tidak terjadi lagi," ungkapnya.

Namun, menurut Vedi, keberhasilan tersebut belum diikuti dengan terwujudnya keadilan sosial sebagaimana cita-cita Reformasi.

"Indonesia memang makin makmur, tetapi hanya untuk segelintir orang. Kesenjangan kekayaan justru meningkat pada masa Reformasi. Reformasi tidak menghasilkan redistribusi kekayaan sosial dan ekonomi," tegasnya.

Karena itu, ia menilai wajar apabila sebagian masyarakat merasa kecewa terhadap capaian Reformasi.

"Cita-citanya begitu tinggi, tetapi setelah 30 tahun hasilnya seperti sekarang. Wajar kalau banyak yang kecewa," katanya.

#30tahunkudatuli
#Diponegoro58
#PDIPerjuangan 
#MegawatiSoekarnoPutri

Quote